GROBOGAN – Krisis air bersih memaksa warga Desa Pandanharum, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengambil air dari sisa genangan sungai yang hampir mengering. Kondisi tersebut telah berlangsung hampir tiga bulan karena sumur warga mengering dan desa itu belum mendapat akses jaringan air bersih maupun program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Puluhan warga terlihat mengantre di sepanjang alur sungai pada Selasa (18/8/2026) sore. Mereka membuat sejumlah belik untuk menampung air resapan sungai sebelum menciduknya menggunakan gayung dan memasukkannya ke ember, galon, serta jeriken.
Air yang didapat warga dalam kondisi keruh. Namun, keterbatasan pilihan membuat mereka tetap memanfaatkannya untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Warga harus menghabiskan waktu sedikitnya 10 menit untuk memenuhi satu jeriken berkapasitas 40 liter. Air tersebut kemudian dibawa pulang menggunakan sepeda motor atau dengan cara digendong berjalan kaki.
Hidayatul (26), warga Desa Pandanharum, mengatakan krisis air mulai dirasakan sejak pertengahan Mei. Kondisi ekonomi warga yang tidak menentu membuat mereka memilih mengambil air dari sungai daripada membeli pasokan air.
“Mau bagaimana lagi, satu toren harganya Rp 75 ribu dan itu digunakan seminggu untuk satu keluarga. Uang dari mana lagi, kami petani kecil,” kata Hidayatul.
Warga lainnya, Endang (45), mengatakan penggunaan air sungai sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Desa Pandanharum setiap kali kemarau panjang. Warga berpenghasilan terbatas kesulitan mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bagi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).
“Kalau untuk masak, minum kami beli air galon. Tapi untuk mandi, mencuci dan lainnya kami gunakan air sungai. Hasil pertanian kami gagal digerogoti tikus, jadi tak ada uang tambahan,” kata Endang.
Sementara itu, Siti Rumsiah (51), berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Pandanharum. Menurut dia, kondisi kekeringan semakin mengkhawatirkan seiring berlanjutnya musim kemarau.
“Belum ada bantuan air bersih sama sekali. Semoga pemerintah mewujudkannya,” kata Siti.
Kondisi di Desa Pandanharum menjadi bagian dari meluasnya dampak kekeringan di Grobogan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan, hingga pertengahan Agustus 2026, Tim Reaksi Cepat (TRC) telah mendistribusikan bantuan air bersih ke 70 desa di 17 kecamatan.
“Ini data per Agustus ini permintaan dropping air meluas,” kata Wahyu, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (18/08/2026).
Menurut Wahyu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprakirakan musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Situasi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang dapat menekan curah hujan.
“Karenanya sudah ada antisipasi awal dengan diterbitkan SK siaga darurat kekeringan dan karhutla sejak Mei. Berbagai persiapan pun sudah kami upayakan,” terang Wahyu.
Untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat terdampak, BPBD Grobogan telah menyiapkan 120 tangki armada air sejak Juli. Persediaan tersebut disiapkan untuk mendukung distribusi air bersih apabila kondisi kekeringan semakin meluas.
“Kami akan berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan untuk suplai air jika kekeringan semakin parah. Semoga baik-baik saja,” pungkas Wahyu. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara