BANYUWANGI – Festival Seribu Ancak kembali mempertemukan warga Desa SumberKencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, dalam tradisi selamatan desa yang menjadi bagian dari peringatan hari jadi desa ke-57, Selasa malam (18/8/2026). Kegiatan tahunan itu tidak hanya menjadi momentum berbagi makanan, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan nilai budaya masyarakat setempat.
Ratusan warga mengikuti kegiatan dengan membawa ancak berisi makanan dari rumah masing-masing setelah salat Magrib. Makanan tersebut kemudian dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan tetangga dalam suasana kekeluargaan yang disertai doa bersama di sejumlah ruas jalan desa.
Festival Seribu Ancak tahun ini menjadi pelaksanaan kelima sejak Kusnan memimpin Desa SumberKencono. Antusiasme masyarakat yang terus terjaga membuat tradisi tersebut dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus bagian dari budaya desa.
Kegiatan berlangsung di puluhan titik berkumpul. Selain pertemuan langsung, terdapat 38 titik lain yang mengikuti kegiatan secara virtual melalui Zoom dengan pusat kegiatan di Balai Desa SumberKencono.
Camat Wongsorejo Mohammad Mahfud mengapresiasi partisipasi masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna lebih luas karena memadukan budaya masyarakat dengan nilai keagamaan.
“Seribu ancak ini bukan hanya sekadar tradisi membagikan seribu piring makanan. Lebih dari itu, ini adalah cerminan nilai luhur budaya Desa SumberKencono dan nilai Islam: bersyukur, bersedekah, dan mempererat silaturahmi,” ujar Mahfud.
Mahfud berharap Festival Seribu Ancak dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. Ia menilai semangat berbagi yang muncul dalam kegiatan tersebut dapat mendukung kerukunan dan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman serta sejahtera.
Ia juga mengapresiasi Pemerintah Desa SumberKencono dan seluruh warga yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan. Mahfud berharap partisipasi masyarakat dalam tradisi tersebut terus terjaga.
“Semoga apa yang Bapak-Ibu berikan dan keluarkan dalam kegiatan seribu ancak malam ini dicatat oleh Allah SWT sebagai amal ibadah,” tuturnya.
Menurut Mahfud, Festival Seribu Ancak merupakan inovasi sekaligus tradisi khas Desa SumberKencono yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Ia bahkan berencana mendorong pengakuan tradisi tersebut di tingkat Kabupaten Banyuwangi apabila masih dipercaya menjabat pada tahun berikutnya.
“Ini merupakan inovasi yang akan kita laporkan ke kabupaten supaya kegiatan seribu ancak ini lebih terlaksana dan tercatat, serta dikukuhkan bahwa kegiatan seribu ancak ini milik Desa SumberKencono,” jelasnya.
Besarnya partisipasi warga juga berdampak pada pengaturan lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Sejumlah akses menuju Desa SumberKencono ditutup sementara untuk menjaga keamanan dan kelancaran acara, antara lain perbatasan Sumberanyar–SumberKencono di kawasan Windu Kencono, jalur barat menuju Kantor Desa SumberKencono, akses dari Kajar menuju Desa Sidodadi, jalur Dusun Kebunrejo, akses timur melalui wilayah Pak Selo Tahu, jalur selatan dari Masjid Alasrejo menuju Andelan, serta pintu masuk Kampung Pojok.
Keberlanjutan Festival Seribu Ancak diharapkan tidak hanya menjaga tradisi lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya Desa SumberKencono. Pemerintah desa dan masyarakat kini memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan tersebut sebagai tradisi khas yang semakin dikenal di tingkat daerah, sebagaimana diwartakan Jurnalnews, Rabu, (19/08/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara