NAGEKEO – Akses warga Desa Selalejo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memenuhi kebutuhan pangan sempat terhenti setelah longsor menutup jalan penghubung Desa Ua menuju Desa Selalejo, Selasa (18/8/2026). Material tanah menutup seluruh badan jalan ketika warga pulang dari Pasar Mauponggo setelah menjual hasil bumi dan membeli beras.
Longsor terjadi sekitar pukul 13.00 WITA. Sejumlah warga yang menggunakan kendaraan terpaksa berhenti karena jalur tidak dapat dilalui. Kondisi tersebut membuat perjalanan pulang warga tertunda, sementara ruas jalan itu merupakan akses utama masyarakat Selalejo dan Selalejo Timur menuju pasar.
Warga kemudian memilih membersihkan material longsor secara gotong royong tanpa menunggu bantuan alat berat. Proses pembersihan berlangsung hampir lima jam dan dilakukan ketika guncangan gempa susulan masih dirasakan di wilayah tersebut.
Dominikus, warga Kecamatan Mauponggo, mengatakan ruas jalan tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya untuk membawa hasil pertanian ke pasar dan memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
“Di jalan raya Desa Ua menuju Desa Selalejo, hanya di situ saja yang tadi tiba-tiba longsor. Kejadiannya sekitar jam 1 siang,” ujar Dominikus saat dihubungi pada Selasa (18/8/2026) malam, sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (19/08/2026).
Menurut Dominikus, perjalanan warga ke pasar dilakukan bukan sekadar untuk aktivitas perdagangan, tetapi juga memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Hasil bumi yang dijual menjadi sumber dana untuk membeli bahan pokok, terutama beras.
“Demi bisa mendapatkan pangan, warga harus turun ke pasar menjual hasil bumi. Pas ketemu longsor,” ungkap Dominikus.
Gangguan akses tersebut terjadi saat masyarakat masih menghadapi dampak gempa bumi tektonik yang mengguncang Nagekeo dan wilayah sekitarnya pada Sabtu (15/8/2026). Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan magnitudo 7,0 berpusat di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay dengan kedalaman 10 kilometer.
Situasi pascagempa membuat kebutuhan akan akses transportasi semakin penting. Meski masih menghadapi guncangan susulan, warga Selalejo dan Selalejo Timur tetap harus bepergian ke Pasar Mauponggo untuk menjual hasil bumi sekaligus memperoleh bahan pangan bagi keluarga.
Gotong royong warga menjadi langkah sementara untuk membuka kembali jalur yang tertutup. Kondisi ini menunjukkan pentingnya akses jalan bagi masyarakat desa, bukan hanya untuk mobilitas, tetapi juga sebagai penghubung kegiatan pertanian, perdagangan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama di tengah situasi kebencanaan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara