SIDRAP – Kekeringan mengancam sekitar 1.000 hektare lahan persawahan di Desa Kanie’e, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Kondisi itu membuat tanaman padi di sejumlah petak mulai berubah warna dan berisiko gagal panen setelah petani lebih dari sebulan kehilangan pasokan air.
Untuk menjaga tanaman tetap hidup hingga masa panen, Kepolisian Resor (Polres) Sidrap bersama Batalyon B Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah (Sat Brimob Polda) Sulawesi Selatan menyalurkan air ke lahan pertanian menggunakan satu unit mobil water cannon pada Minggu (9/8/2026).
Langkah tersebut menjadi upaya darurat karena sejumlah sumber air yang sebelumnya dimanfaatkan petani telah mengering akibat kemarau panjang yang dikaitkan dengan fenomena El Niño. Air disalurkan langsung ke beberapa petak sawah yang kondisi tanamannya mulai mengkhawatirkan, sebagaimana diberitakan Tribun Timur, Senin (10/8/2026).
Kapolres Sidrap Indra Waspada Yudha mengatakan bantuan itu diberikan setelah pihaknya melihat langsung kondisi persawahan dan ancaman gagal panen yang dihadapi petani.
“Jadi pada sore hari ini, kami dari Kepolisian, dalam hal ini adalah Polres Sidrap, bersama-sama dengan Batalyon B Sat Brimob Polda Sulawesi Selatan, kami melaksanakan perbantuan kepada para petani yang ada di Kabupaten Sidrap,” kata Indra.
Menurut Indra, ancaman tersebut berkaitan dengan kemarau panjang yang membuat kebutuhan air tanaman padi tidak terpenuhi. Jika kondisi itu berlanjut, tanaman yang masih berada dalam masa pertumbuhan berpotensi tidak dapat dipanen secara optimal.
“Hal ini dimaksud yaitu, kita tahu bersama bahwa saat ini sedang terjadi musim kemarau panjang El Niño, yang mana bisa menyebabkan gagal panen,” ujarnya.
Pemantauan di lapangan menunjukkan sebagian tanaman padi telah mengalami perubahan warna. Kondisi itu menjadi indikator bahwa tanaman mulai terdampak serius akibat keterbatasan air.
“Kita melihat sudah ada beberapa petak sawah itu yang sudah berubah warnanya, itu terancam gagal panen,” ujarnya.
Kepala Desa Kanie’e Abd. Majid mengatakan lahan pertanian yang terdampak kekeringan di wilayahnya mencapai sekitar 1.000 hektare. Para petani sebelumnya telah berupaya mengatasi persoalan air dengan memanfaatkan bantuan pompa yang dibagikan kepada kelompok tani.
“Ada 1.000 hektar,” kata Abd. Majid saat ditanya mengenai luas lahan pertanian yang terdampak kemarau.
Namun, upaya tersebut menghadapi kendala ketika sumber air di sejumlah titik mulai mengering. Akibatnya, pompa yang tersedia tidak lagi dapat menjangkau kebutuhan seluruh lahan pertanian.
“Bantuan pompa yang masuk, otomatis masyarakat sudah berupaya untuk menghasilkan. Karena bantuan yang ada sudah dibagikan sesama kelompok, permasalahannya ada sebagian sudah tidak ada airnya. Karena sudah musim kemarau,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat tambahan pasokan air menjadi penting untuk mempertahankan tanaman sampai masa panen. Abd. Majid menilai tanpa bantuan tambahan, risiko kerugian petani akan semakin besar.
“Jadi memang kalau tidak ada bantuan air seperti ini, otomatis bisa gagal panen,” ujarnya.
Pemerintah Desa Kanie’e juga mengapresiasi dukungan kepolisian dan Brimob yang turun langsung membantu kelompok tani menghadapi kekeringan.
“Alhamdulillah, saya sebagai Pemerintah Desa di desa kami ini mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan Pak Kapolres terhadap kelompok tani di desa kami ini,” katanya.
“Saya mewakili desa, masyarakat desa kami ini mengucapkan banyak terima kasih,” lanjutnya.
Bantuan air tersebut direncanakan berlanjut selama beberapa hari dengan sasaran petani yang membutuhkan. Polres Sidrap berharap distribusi air dapat membantu tanaman bertahan hingga masa panen dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
“Rencananya akan kita lakukan beberapa hari ke depan sampai dengan insya Allah semua petani yang ada di Kabupaten Sidrap mendapat bantuan pasokan air bersih,” kata Indra. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara