37 Spesies Burung Betah di Desa Ngulahan, Wisatawan Asing Berdatangan

REMBANG – Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kebijakan desa yang melarang perburuan burung sejak 2020 membuat kawasan tersebut kini menjadi habitat sedikitnya 37 spesies burung dan menarik kedatangan akademisi serta wisatawan mancanegara.

Upaya menjaga keberadaan burung di Ngulahan berawal dari keresahan para pemuda desa pada 2019. Mereka melihat sejumlah jenis burung yang dahulu mudah ditemukan mulai langka akibat aktivitas perburuan. Kondisi tersebut mendorong pemuda bersama masyarakat untuk mencari cara agar populasi burung kembali tumbuh di wilayah mereka.

Leader Desa Ramah Burung Ngulahan, EN Arthur, mengatakan kekhawatiran terhadap hilangnya sejumlah jenis burung menjadi awal gerakan konservasi yang kemudian berkembang di desa.

“Kami prihatin karena pemburu itu bisa masuk desa kita dengan bebas. Terus burung-burung yang dulu pernah ada menurut orang tua kita itu sudah punah seperti elang terus kayak jenis jalak, pentet, terus kacer. Nah, akhirnya kita kumpul sama teman-teman karang taruna itu bahas supaya dikembalikan lagi,” ujar EN Arthur kepada Kompas.com di Ngulahan Park, Minggu (9/8/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (10/08/2026).

Upaya tersebut mendapat dukungan pemerintah desa melalui penerbitan Peraturan Desa (Perdes) pada 2020 yang melarang perburuan seluruh jenis burung. Aturan tersebut menjadi salah satu dasar bagi masyarakat untuk menjaga kawasan desa agar tetap aman bagi satwa liar.

“Jadi akhirnya kita bisa lihat sekarang merak hijaunya lestari, terus jalak urennya, kacer dan banyak burung lain,” kata dia.

Menurut Arthur, kondisi lingkungan yang relatif aman membuat burung liar kembali menempati kawasan Ngulahan. Ia menilai satwa memiliki insting untuk mencari tempat yang tidak memberikan ancaman sehingga keberadaan masyarakat yang tidak melakukan perburuan turut menciptakan lingkungan yang nyaman bagi burung.

“Mungkin burung itu punya insting. Ketika dia enggak diburu dia kerasan. Kalau ketika dia diburu dia enggak akan kerasan. Mungkin ya itu tadi karena orang-orang di sini sudah ramah terhadap mereka. Jadi insting untuk dia itu disakiti, diburu, terus mau ditangkap sudah enggak ada. Nah, insting dia akan kembali ke sini karena dia sudah merasa nyaman enggak ada rasa trauma dengan manusia mungkin, kan begitu,” terang EN Arthur.

Hingga kini, daftar burung yang tercatat di kawasan Desa Ramah Burung Ngulahan mencakup merak hijau, rangkong julang emas, jalak uren jawa, burung hantu kukuk seloputo, serak jawa, celepuk reban, cekakak jawa, cekakak sungai, raja udang punggung merah, elang ular bido, elang brontok, elang tikus, alap-alap sapi, decu belang, kacer, pentet kelabu, cinenen, hingga prenjak jawa.

Konservasi juga dilakukan melalui pelepasan burung pada sejumlah kegiatan untuk mengembalikan jenis yang sebelumnya pernah ditemukan di wilayah tersebut.

“Jadi kita setiap ada acara itu kita ada acara pelepasan burung untuk menambah jenis burung yang dulu pernah ada kita kembalikan lagi,” kata dia.

Keberhasilan menjaga habitat burung kemudian berkembang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Alun-alun Rembang tersebut mulai dikunjungi wisatawan lokal, fotografer, hingga wisatawan dari Singapura, Thailand, Australia, dan sejumlah negara Eropa.

“Yang paling banyak itu akademisi dari Singapura,” ujar EN Arthur.

Para akademisi tersebut datang untuk mengamati dan meneliti berbagai jenis burung yang dinilai sudah sulit ditemukan di alam. Salah satu yang menjadi perhatian adalah jalak uren jawa yang menurut Arthur telah dinyatakan punah di alam, meskipun masih dapat ditemukan di penangkaran.

“Mungkin ya jenis-jenis burung ya. Terus kayak yang kita sepelekan itu kalau menurut mereka yang di Singapura itu Jalak Uren Jawa. Itu kan kalau di alam kan sudah benar-benar punah. Walaupun masih banyak ditemui di penangkar. Makanya mereka itu ke sini itu malah untuk mengamati burung-burung yang sederhana,” terang dia.

Kunjungan wisatawan juga mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Fotografer burung dari dalam maupun luar negeri datang secara berkelompok dan membutuhkan waktu lebih dari sehari untuk mengamati serta mendokumentasikan satwa. Kondisi itu menciptakan kebutuhan terhadap penginapan warga atau homestay.

“Kalau fotografer semua jenis burung ya dicari terutama yang warnanya bagus,” kata dia.

“Terus ekonominya juga ada, fotografer juga sering ke sini. seminggu bisa ada dua sampai tiga kelompok lah termasuk yang dari luar negeri tadi. Terus nginepnya juga ada homestay di sini,” ucap dia.

Namun, perkembangan wisata berbasis konservasi tersebut masih menghadapi kendala akses. Wisatawan mengeluhkan kondisi jalan menuju Desa Ngulahan yang masih rusak.

“Mungkin aksesnya yang dikeluhkan. Mereka ya banyak mengeluh. Tapi ya itu enggak jadi hambatan kita. Selama kita bergerak terus ada bukti nyata mereka tetap saja datang ke sini,” jelas dia.

Arthur berharap dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang terhadap pengembangan wisata di Desa Ngulahan dapat ditingkatkan, terutama karena kawasan tersebut telah menunjukkan potensi wisata minat khusus yang menarik wisatawan dan akademisi dari luar negeri.

“Kadang kita juga heran sendiri sama pemkab. Dia mau mendatangkan wisatawan luar negeri di pantai-pantai. Ini kan jelas jelas datang dokumentasi ada wisatawan luar negeri kan datang ke sini semua untuk fotografer burung kan. Tapi ya itu tadi mungkin dukungan dari Pemkab belum maksimal,” terang dia.

Keberadaan 37 spesies burung di Ngulahan menunjukkan bahwa perlindungan satwa dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi desa. Dengan dukungan terhadap konservasi, akses, dan fasilitas wisata, Desa Ngulahan berpeluang memperkuat posisinya sebagai destinasi pengamatan burung sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Gapura HUT RI Desa Ta’aba Dibangun Warga Secara Gotong Royong

PDF 📄MALAKA – Semangat gotong royong warga Desa Ta’aba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka (Malaka), Nusa …

33.785 Peserta Tuntaskan Pelatihan Koperasi Merah Putih

PDF 📄JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan peserta pelatihan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan …

Usia ke-76, Teluknaga Fokus Perkuat Pelayanan Masyarakat

PDF 📄TANGERANG – HUT ke-76 Teluknaga Jadi Momentum Perkuat Pelayanan Publik Memasuki usia ke-76, Kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *