Limbah Rumput Laut di Lotim Disulap Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi

LOMBOK TIMUR – Limbah rumput laut yang selama ini mencemari pesisir Pantai Selatan di Kecamatan Jerowaru kini mulai dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair bernilai ekonomi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Inovasi tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Desa Pandan Wangi.

Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu dijalankan tim dosen Universitas Hamzanwadi bersama 23 mahasiswa lintas program studi. Selain mengolah limbah rumput laut menjadi Pupuk Organik Cair (POC), program juga memanfaatkan umbi gadung menjadi insektisida hayati ramah lingkungan.

Ketua Pelaksana Program PKM, Zaotul Wardi, mengatakan persoalan limbah rumput laut dan tingginya biaya pupuk kimia menjadi alasan utama lahirnya program tersebut.

“Di satu sisi, petani kami mengeluhkan biaya produksi yang mencapai Rp600.000 hingga Rp800.000 per musim tanam karena ketergantungan pada pupuk kimia. Di sisi lain, limbah rumput laut yang mencapai 1-2 ton per musim justru terbuang dan mencemari pantai,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Suara NTB, Jumat (24/07/2026).

Ia menambahkan, program dirancang tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membangun sistem pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna.

“Program ini kami rancang tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi membangun sistem pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna. Limbah pesisir yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran kami ubah menjadi sumber nutrisi tanaman, sedangkan umbi gadung diolah menjadi insektisida hayati yang aman bagi lingkungan,” jelas Zaotul.

Pendampingan dilakukan melalui metode learning by doing. Mahasiswa terlibat langsung bersama masyarakat mulai dari pengumpulan limbah rumput laut, proses fermentasi menjadi POC, pengolahan insektisida hayati, pengemasan produk, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga pembentukan unit produksi kelompok tani.

Tim pengabdian juga membangun demonstration plot (demplot) pertanian organik sebagai lahan percontohan untuk membandingkan efektivitas penggunaan pupuk organik dengan sistem budidaya konvensional.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya percaya, tetapi melihat sendiri buktinya. Demplot ini menjadi saksi bahwa pertanian organik tidak kalah produktif, bahkan lebih efisien biayanya,” tambah Zaotul.

Program tersebut bermitra dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Pandan Wangi, Kelompok Tani Patuh Angen, Kelompok Tani Sari Tani, serta Kelompok Remaja Masjid Temorok.

Kepala Desa (Kades) Pandan Wangi, Saipul Rizal, menilai inovasi tersebut menjadi solusi untuk mengatasi persoalan limbah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat pesisir.

“Program ini sangat tepat sasaran. Kami memiliki potensi rumput laut yang melimpah, tetapi selama ini limbahnya justru menjadi masalah. Sekarang limbah itu bisa menjadi berkah,” ujar Saipul.

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Sari Tani, Masturiadi.

“Selama ini rumput laut yang rusak atau sisa panen hanya kami buang. Sekarang bisa kami olah jadi pupuk. Ini sangat membantu meringankan biaya kami,” tuturnya.

Melalui produksi POC dan insektisida hayati secara mandiri, biaya input pertanian diproyeksikan turun sekitar 30 hingga 40 persen setiap musim tanam. Program ini juga ditargetkan meningkatkan kapasitas kelompok tani melalui pembentukan unit produksi, penyusunan SOP, modul pelatihan, serta sistem pendampingan yang dapat direplikasi di wilayah lain di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Program tersebut sejalan dengan penguatan ekonomi hijau, ekonomi biru, swasembada pangan, serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta pertanian berkelanjutan.

“Kami ingin masyarakat tidak lagi bergantung pada pupuk kimia yang mahal. Dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar, mereka bisa mandiri dan sejahtera,” pungkas Zaotul. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Pemkab Banyuwangi Tampung Ide Anak untuk Kebijakan Lingkungan

PDF đź“„BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menjadikan aspirasi puluhan pelajar sebagai bahan penyusunan kebijakan …

Pengelolaan Sampah Desa Jatiarjo Diperkuat Lewat Mini Insinerator

PDF đź“„PASURUAN – Upaya mengatasi persoalan sampah rumah tangga di Dusun Cowek, Desa Jatiarjo, Kecamatan …

Restorasi Lamun di Lampung Buka Peluang Budidaya Kepiting dan Rajungan

PDF đź“„PESAWARAN – Upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat mulai dijalankan di Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *