MANGGARAI BARAT – Upaya memperluas manfaat pariwisata hingga ke tingkat desa terus didorong Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melalui promosi sejumlah desa wisata berkelanjutan di ajang ekowisata nasional yang digelar di Bali. Langkah ini dilakukan untuk memperkenalkan potensi Flores yang lebih luas, tidak hanya bertumpu pada destinasi Taman Nasional Komodo.
Dalam kegiatan The Meru Eco Tourism Week edisi keempat di Bali Beach Convention Center, Sanur, Sabtu (30/5/2026), BPOLBF memperkenalkan Desa Wisata Warloka, Desa Wisata Wae Lolos, dan Dusun Rangko yang berada di Desa Tanjung Boleng. Ketiga kawasan tersebut dinilai berhasil menggabungkan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pengalaman wisata berbasis kearifan lokal.
Pelaksana Tugas Direktur Utama (Dirut) Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy Marpaung, mengatakan promosi destinasi alternatif menjadi bagian dari strategi pemerataan kunjungan wisatawan di Pulau Flores.
“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap perjalanan ke Flores tidak hanya memberikan pengalaman wisata yang berkesan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujar Andhy, sebagaimana dilansir Viva, Senin, (01/06/2026).
Selain memperkenalkan desa wisata, BPOLBF juga menawarkan berbagai paket perjalanan yang mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak wilayah di Flores. Salah satunya adalah paket pendakian Nine Summits Flores yang menghubungkan sembilan puncak gunung di berbagai daerah, serta rute perjalanan lintas Flores dari wilayah barat hingga timur pulau.
Tidak hanya wisata alam, BPOLBF juga mengembangkan konsep wisata religi Katolik bersama sejumlah keuskupan di Flores. Program tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman spiritual yang terstruktur bagi peziarah maupun wisatawan yang ingin mengenal warisan budaya dan keagamaan masyarakat Flores.
Forum yang mengangkat tema transformasi pariwisata menuju bioekonomi regeneratif itu turut menghadirkan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana. Dalam kesempatan tersebut, Widiyanti mengajak pelaku industri untuk menjadikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai investasi jangka panjang dalam pengembangan sektor pariwisata.
“Kami berharap semakin banyak pelaku usaha pariwisata yang tergerak untuk menerapkan prinsip ESG dan memandang aspek keberlanjutan sebagai investasi strategis jangka panjang,” kata Widiyanti.
Sementara itu, Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo, menilai forum tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mewujudkan praktik pariwisata berkelanjutan yang berdampak nyata.
Melalui promosi tersebut, BPOLBF berharap semakin banyak wisatawan dan pelaku industri yang tertarik menjelajahi potensi Flores secara menyeluruh, sehingga manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat desa di berbagai wilayah pulau. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara