WhatsApp Jadi Senjata Desa Perante Lawan Stunting dan TB

SITUBONDO Pemanfaatan teknologi sederhana berupa Google Form dan WhatsApp di Desa Perante menjadi solusi efektif untuk mempercepat pendataan kasus stunting dan tuberkulosis (TB). Inisiatif yang digagas Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Perante itu berhasil menjangkau ratusan warga dan memperkuat upaya pencegahan dua persoalan kesehatan yang saling berkaitan.

Program yang dijalankan sejak 2023 melalui Kardas Centing Tosis atau Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberkulosis tersebut lahir dari kepedulian Farhana (29) dan Siti Zubaidah (59) terhadap tingginya risiko stunting dan TB di lingkungan desa. Melalui formulir digital yang disebarkan lewat grup WhatsApp kader Posyandu, proses pendataan warga dapat dilakukan lebih cepat, luas, dan akurat.

Farhana menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan penanganan stunting dan TB dalam satu sistem pendataan. Menurutnya, kedua masalah kesehatan tersebut memiliki keterkaitan yang erat sehingga perlu ditangani secara bersamaan.

“Setelah saya cari-cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting. Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan,” ujar Farhana, sebagaimana diberitakan Telset, Senin (01/06/2026).

Ia menambahkan bahwa anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena tuberkulosis, sementara TB dapat menghambat proses tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.

“Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1-2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun-tahun mendatang, mungkin 2-3 tahun. Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak,” jelasnya.

Hingga saat ini, program tersebut telah mendata hampir 200 anak terkait stunting dan melakukan skrining TB terhadap sekitar 500 hingga 600 warga dari total hampir 1.000 penduduk Desa Perante. Data yang terkumpul kemudian digunakan sebagai dasar konsultasi dan tindak lanjut bersama Posyandu serta bidan desa.

Anak yang terindikasi stunting akan memperoleh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara gratis selama satu bulan. Berdasarkan pengalaman pelaksanaan program sebelumnya, sejumlah anak yang menerima PMT pada 2024 tidak lagi masuk kategori stunting pada 2025.

“Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi. Waktu itu aku tanya ke kadernya ‘Kenapa nggak dapat lagi?’, dijawabnya ‘Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi’,” kisahnya.

Untuk memastikan seluruh warga terdata, tim pelaksana tidak hanya mengandalkan sistem daring. Keluarga yang belum mengisi formulir digital akan didatangi langsung melalui metode “jemput bola” sehingga tidak ada warga yang terlewat dari proses pendataan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital di tingkat desa tidak selalu membutuhkan teknologi yang kompleks. Dengan memanfaatkan aplikasi yang mudah diakses masyarakat, Desa Perante mampu memperkuat pengawasan kesehatan sekaligus meningkatkan efektivitas program penanganan stunting dan tuberkulosis secara berkelanjutan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Isno Baco Ingin Cetak Generasi Desa Pinggang yang Berdaya Saing

PDF 📄MANGGARAI – Penguatan sumber daya manusia dan pembangunan generasi muda menjadi prioritas yang diusung …

Pilkades Pinggang Memanas, Valerius Isnoho Serukan Demokrasi Damai

PDF 📄MANGGARAI TIMUR – Komitmen membangun kualitas generasi muda menjadi salah satu fokus yang diusung …

Partisipasi Warga Meningkat, Pilkades Deliserdang Berlangsung Aman

PDF 📄DELI SERDANG – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahap II di Kabupaten Deli Serdang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *