GRESIK – Penguatan kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital mulai diterapkan untuk mengembangkan ekowisata mangrove di Desa Manyarsidomukti, Kabupaten Gresik (Gresik). Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing destinasi wisata berbasis lingkungan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi warga pesisir secara berkelanjutan.
Kegiatan pelatihan digitalisasi ekowisata mangrove digelar di Balai Desa Manyarsidomukti pada 20 Mei 2026. Program ini melibatkan pengelola wisata, nelayan, kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), komunitas bank sampah, mahasiswa, serta masyarakat umum yang berada di kawasan sekitar Mangrove Kalimireng.
Pengembangan wisata berbasis konservasi tersebut berangkat dari besarnya potensi kawasan mangrove yang memiliki nilai edukasi lingkungan, keanekaragaman hayati, serta panorama alam yang dapat menarik wisatawan. Namun, pemanfaatan teknologi digital untuk promosi dan pengelolaan destinasi masih dinilai belum optimal.
Dalam kegiatan itu, peserta memperoleh materi mengenai pentingnya vegetasi mangrove, pengembangan desa wisata, konservasi berbasis ekowisata, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk promosi destinasi. Pelatihan juga mengenalkan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui aplikasi ChatGPT sebagai sarana pembuatan konten promosi wisata.
Sebagaimana diberitakan Kompasiana, Senin (25/05/2026), pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan promosi wisata sekaligus memperkenalkan potensi lingkungan pesisir kepada masyarakat yang lebih luas.
Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik membuat poster dan materi promosi digital untuk media sosial. Selain promosi wisata, teknologi tersebut diperkenalkan untuk mendukung kebutuhan informasi desa, seperti publikasi kegiatan masyarakat, undangan PKK, hingga kampanye pelestarian lingkungan.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap penggunaan AI dalam promosi wisata. Sebelum pelatihan, tingkat pemahaman warga mengenai pemanfaatan teknologi tersebut masih sekitar 10 persen, sedangkan setelah kegiatan berlangsung meningkat hingga 90 persen.
Selain keterampilan digital, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pantai, habitat biota perairan, serta sumber pengembangan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis mangrove.
Ke depan, pengembangan ekowisata mangrove berbasis digital diharapkan mampu menjadikan Mangrove Kalimireng sebagai salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Gresik, sekaligus memperkuat upaya konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara