JOMBANG – Koperasi petani di Desa Pojokkulon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang mulai mengambil peran penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional dengan mengelola gabah petani menjadi beras premium hingga memperkuat jalur distribusi ke Perum Bulog. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga harga gabah tetap stabil sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tengah tantangan distribusi pangan dan ancaman penurunan produksi.
Panen padi yang berlangsung pada penghujung April 2026 menjadi momentum bagi petani setempat untuk memperkuat sistem distribusi hasil pertanian berbasis koperasi. Salah seorang petani, Sandya Evi Yulianto, mengaku harga gabah yang diserap Bulog memberi kepastian bagi petani saat musim panen raya berlangsung.
“Gabah kering panen sekarang diserap Bulog Rp6.500 per kilogram,” katanya sambil mengusap keringat. “Alhamdulillah, kami terbantu,” ungkapnya menambahkan.
Sandya menyebut, lahan sawah seluas dua hektare yang dipanennya mampu menghasilkan sekitar enam hingga tujuh ton gabah per hektare. Hasil tersebut menjadi penopang utama kebutuhan hidup petani sekaligus modal untuk musim tanam berikutnya.
Penguatan sektor pertanian di Jombang kini tidak hanya berhenti pada aktivitas budidaya. Ketua Koperasi Multi Pihak Sarana Agro Lestari, Hudi, mengatakan para petani mulai mengelola rantai usaha secara mandiri melalui koperasi yang dibentuk dalam program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) sejak 2024.
“Dulu hasil panen ya selesai di tengkulak,” kata Hudi. “Sekarang kami mencoba mengelolanya sendiri,” bebernya menambahkan.
Koperasi tersebut membawahi 10 gabungan kelompok tani (gapoktan) dari sejumlah kecamatan di Jombang. Gabah hasil panen petani kemudian diproses di Rice Milling Unit (RMU) Desa Pojokkulon menjadi beras premium dan medium dengan label “Jatim Cettar”.
Hudi menjelaskan, koperasi juga ikut terlibat dalam skema serapan pangan pemerintah dengan mendistribusikan hasil panen ke Bulog agar harga tetap terkendali saat panen raya berlangsung.
“Jadi kami tidak hanya produksi, kami juga melakukan serapan untuk kemudian diteruskan kepada Bulog. Dengan begitu hasil panen petani tetap terserap dan harganya stabil,” kata Hudi sebagaimana dilansir Idn Times, Senin, (18/05/2026).
Menurutnya, keberadaan Bulog memberi rasa aman bagi petani karena harga gabah tidak mudah jatuh ketika produksi meningkat secara bersamaan.
“Kalau panen bersamaan biasanya harga jatuh. Sekarang petani lebih tenang karena ada serapan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog Jatim, Langgeng Wisnu Adinugroho, menyebut cadangan beras di wilayahnya mencapai sekitar 1,3 juta ton. Jumlah tersebut membuat kapasitas gudang Bulog hampir penuh sehingga diperlukan tambahan gudang penyimpanan.
“Kalau panen masih melimpah, kami akan tambah kapasitas lagi,” kata Langgeng usai mengikuti Forum Group Discussion (FGD) di Kompleks Pergudangan Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga menegaskan stok beras nasional yang mencapai 5,3 juta ton menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
“Ini bukan berdasarkan rasa, tapi data,” tegasnya saat kunjungan kerja di Gudang Bulog Romokalisari, Surabaya.
Di sisi lain, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menilai penguatan ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan modernisasi pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Tidak sekadar bagaimana memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tetapi kita ingin menjadi bagian yang membawa Indonesia menuju kedaulatan pangan berkelanjutan,” ujarnya saat peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jatim 2026 di Kabupaten Sidoarjo.
Khofifah mengatakan, Pemprov Jatim terus mendorong penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti drone sprayer, transplanter, rotavator, hingga combine harvester untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menarik minat generasi muda masuk sektor pertanian.
“Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda,” ujar Khofifah.
Meski stok beras nasional melimpah, sejumlah pihak masih menyoroti persoalan distribusi pangan yang dinilai belum sepenuhnya efisien. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menyebut kenaikan harga beras di tingkat konsumen menunjukkan masih adanya persoalan dalam rantai pasok pangan nasional.
“Ada kerikil dalam tumpukan beras,” katanya tertulis, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Hendry, pemerintah perlu memperkuat operasi pasar dan memperpendek distribusi beras dari penggilingan hingga konsumen agar harga tetap terjangkau.
“Pemerintah perlu memperkuat peran Bulog dalam operasi pasar dan memperpendek rantai pasok dari penggilingan ke konsumen,” ujar Hendry.
Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi data stok beras nasional di tengah proyeksi penurunan produksi dan penyusutan luas panen pada pertengahan 2026.
“Kalau produksi mulai melambat dan luas panen menyusut, maka transparansi komposisi stok menjadi penting,” katanya.
Hendry menegaskan, keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya diukur dari banyaknya stok beras di gudang, melainkan juga kemampuan masyarakat memperoleh pangan dengan harga terjangkau serta meningkatnya kesejahteraan petani.
“Stabilitas pangan bukan sekadar angka stok di gudang,” ucapnya. “Tetapi keterjangkauan harga dan kesejahteraan petani,” pungkasnya menegaskan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara