GIANYAR – Transformasi Desa Ubud di Kabupaten Gianyar, Bali, dari kawasan sunyi menjadi destinasi wisata dunia terus menarik perhatian hingga 2026. Sejarah panjang yang dibangun melalui seni, budaya, hingga pengaruh perfilman internasional membuat Ubud tetap bertahan sebagai pusat wisata spiritual dan artistik yang dikenal luas oleh wisatawan mancanegara.
Perkembangan Ubud sebagai ikon wisata dunia disebut telah dimulai sejak era 1920-an. Kala itu, kawasan yang awalnya berupa desa tenang mulai dikenal dunia melalui kedatangan seniman, antropolog, dan tokoh perfilman internasional yang memperkenalkan pesona Bali ke panggung global.
Seniman asal Jerman, Walter Spies, menjadi salah satu tokoh penting dalam membangun citra Ubud di mata dunia setelah menetap di kawasan tersebut pada 1927. Selama tinggal di Ubud, ia dikenal aktif memperkenalkan budaya Bali kepada sejumlah tokoh internasional, termasuk antropolog Margaret Mead dan Gregory Bateson.
Selain dikenal sebagai pusat seni dan spiritualitas, Ubud juga tercatat pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film Hollywood bisu terakhir berjudul Legong: Dance of the Virgins pada 1933. Kehadiran industri perfilman internasional turut memperkuat citra eksotis Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Perkembangan sektor pariwisata Bali semakin meningkat setelah dibukanya jalur pelayaran Royal Dutch Steam Packet Company pada awal 1920-an. Akses menuju Bali yang sebelumnya terbatas mulai terbuka bagi wisatawan internasional, terutama kalangan penjelajah, antropolog, hingga sastrawan dunia.
Popularitas Ubud terus berlanjut hingga era modern. Sejumlah tokoh dunia tercatat pernah mengunjungi kawasan tersebut, seperti Mick Jagger, Jerry Hall, hingga Michael Jackson. Film Eat, Pray, Love yang dirilis pada 2010 juga disebut semakin memperkuat posisi Ubud sebagai destinasi wisata spiritual internasional.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati jejak sejarah Ubud, sejumlah lokasi seni dan budaya masih dipertahankan hingga kini, termasuk museum seni milik mendiang Antonio Blanco dan kawasan pusat budaya tradisional Bali. Nuansa spiritual yang berpadu dengan gaya hidup modern menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Transformasi Ubud dari desa kecil menjadi destinasi wisata internasional dinilai menunjukkan keberhasilan masyarakat lokal menjaga warisan budaya di tengah perkembangan pariwisata global. Kondisi itu sekaligus menjadikan sektor wisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat berbasis budaya dan tradisi lokal, sebagaimana diwartakan Abcnews, Minggu, (17/05/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara