Bagi masyarakat Kampung Munde, Desa Komba, Manggarai Timur, menjaga Mata Air Wae Mangot tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tradisi Mori Wae menjadi salah satu cara masyarakat menegaskan pentingnya mempertahankan sumber air dan lingkungan di sekitarnya.
MANGGARAI TIMUR – Masyarakat Kampung Munde, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadikan penghormatan terhadap mata air sebagai bagian dari kehidupan bersama melalui rangkaian ritual adat Suku Nggai.
Rangkaian tersebut dimulai dari Mata Air Wae Mangot di sisi timur Kampung Munde pada Kamis (24/9/2026). Sejumlah tetua adat mendatangi sumber air dengan membawa telur ayam kampung dan moke atau tuak lokal sebagai bagian dari ritual Mori Wae.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan mata air berkaitan langsung dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Air digunakan untuk memasak serta menghidupi kebun dan tanaman. Karena itu, keberadaan Wae Mangot dipandang perlu dijaga dari kerusakan dan pencemaran.
Tua adat Suku Nggai, Aloisius Mbiru, menjelaskan penghormatan terhadap mata air juga mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Ketika sumber air tercemar, kehidupan manusia ikut terancam. Karena itu, penghormatan terhadap mata air dalam tradisi Suku Nggai dapat dibaca sebagai sebuah pesan ekologis yang sangat sederhana: jagalah sumber air jika ingin kehidupan terus berjalan,” ungkap Aloisius Mbiru.
Sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis, (24/09/2026), ritual Mori Wae dilakukan di Mata Air Wae Mangot dengan melibatkan sejumlah tetua adat, yakni Aloisius Mbiru, Martinus Timbul, Jung Lijung, Yanto Anggal, dan Stefanus Jeramu.
Setibanya di sumber air, rombongan menaiki lereng yang ditumbuhi pepohonan besar untuk mencari Watu Embo, batu yang dikaitkan dengan leluhur. Telur ayam kampung dan moke kemudian digunakan sebagai bagian dari sesajen dalam ritual.
Aloisius menyampaikan doa dan ungkapan adat menggunakan bahasa etnis Kolor. Dalam kepercayaan Suku Nggai, Mata Air Wae Mangot juga memiliki penjaga yang disebut Darat. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat memperlakukan dan menjaga sumber air.
Mbiru menegaskan bahwa kebutuhan terhadap air tetap melekat dalam kehidupan masyarakat meskipun perkembangan zaman terus berlangsung.
“Maka, ketika masyarakat Suku Nggai datang ke Wae Mangot membawa telur ayam kampung dan moke, mereka tidak hanya sedang melakukan ritual kepada penjaga mata air,” jelas Mbiru.
Setelah ritual di mata air, rangkaian kegiatan berlanjut ke Mbaru Meze atau rumah adat Suku Nggai. Di lokasi tersebut, Aloisius kembali melakukan ritual menggunakan beras yang dipercikkan ke tanah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Sang Pencipta.
Sebagian beras kemudian dimasukkan ke wadah bambu kecil untuk dipersiapkan dalam rangkaian Tapa Kolo. Kegiatan selanjutnya berlangsung di Watu Naga, batu yang dipercaya sebagai penjaga Kampung Munde.
Warga Suku Nggai berkumpul mengelilingi Watu Naga dengan membawa telur ayam kampung, seekor ayam jantan, dan seekor babi. Bagian hati babi dan ayam disiapkan sebagai sesajen atau nurung untuk leluhur.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Tapa Kolo, yakni membakar nasi yang dimasukkan ke dalam bambu. Sekitar 160 kolo dibakar di halaman rumah adat. Warga bekerja bersama menyiapkan makanan, menjaga api, dan mengurus perlengkapan adat sebelum makanan disantap bersama.
Dalam rangkaian Kolo Kabe, masyarakat juga melakukan nurung kepada leluhur di Watu Naga yang berada di batas Kampung Munde dengan kampung tetangga. Persembahan yang disiapkan berupa hati babi, hati ayam, dan moke putih.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan keterlibatan masyarakat kampung dalam tradisi yang menghubungkan mata air, rumah adat, batas kampung, leluhur, alam, dan kehidupan bersama.
“Maka, ketika masyarakat Suku Nggai datang ke Wae Mangot membawa telur ayam kampung dan moke, mereka tidak hanya sedang melakukan ritual kepada penjaga mata air,” jelas Mbiru.
Mbiru mengatakan air tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam berbagai aktivitas. Penghormatan terhadap Wae Mangot melalui Mori Wae dan rangkaian Kolo Kabe karena itu tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga menjadi pengingat agar sumber air tetap tersedia bagi kehidupan masyarakat hingga generasi berikutnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara