Hampir 3.000 warga di tujuh dusun Desa Jungutan masih menunggu akses air bersih, sementara pemerintah daerah mulai menyiapkan perencanaan jaringan distribusi yang ditargetkan terealisasi pada 2027.
KARANGASEM – Pemenuhan air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, setelah tujuh dari 12 dusun di wilayah tersebut belum terlayani jaringan air bersih.
Hampir 3.000 warga di Dusun Nampo, Batu Ampin, Kubu Pangi, Pangleg, Yeh Kori, Untalan, dan Galih masih belum mendapatkan layanan air bersih. Kondisi tersebut berkaitan dengan letak sejumlah permukiman di kawasan perbukitan bawah Gunung Agung.
Persoalan itu dibahas saat Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata bersama Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman (PUPRPKim) Karangasem menyerap aspirasi masyarakat Desa Jungutan, Rabu (23/9/2026).
Pemerintah daerah kemudian menjajaki sejumlah alternatif sumber air untuk memenuhi kebutuhan kawasan atas Jungutan. Salah satu yang dikaji adalah Mata Air Gua yang telah memperoleh izin dari desa adat untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakat.
Perbekel Jungutan I Wayan Wastika menjelaskan, kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan distribusi air bersih belum menjangkau seluruh dusun.
“Di Jungutan ada 12 dusun. Baru lima dusun yang bisa terakses air bersih, sedangkan tujuh dusun di atas belum mendapat akses,” kata Wastika, sebagaimana diberitakan Warta Bali, Kamis, (24/09/2026).
Saat ini, lima dusun telah memperoleh pasokan dari Mata Air Telaga Tista. Sementara itu, tujuh dusun yang berada di kawasan perbukitan masih menunggu solusi agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi.
Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Dinas PUPRPKim Karangasem I Ketut Prama Budarta mengatakan survei dan penghitungan skema teknis penyaluran air sedang dilakukan.
“Perintahnya Bapak Bupati, kita di PU segera merancang dan merencanakan ini. Di perubahan ini kita siapkan untuk penyusunan DED,” kata Prama.
Salah satu kendala teknis yang dikaji adalah posisi Mata Air Gua yang lebih rendah daripada permukiman warga. Kondisi tersebut membuat air membutuhkan sistem pengangkatan sekaligus jaringan distribusi agar dapat dialirkan menuju kawasan permukiman.
Dalam kajian awal, air diperkirakan perlu diangkat melalui tiga tahap hingga Bukit Cemara. Pemerintah juga akan menghitung alternatif pengangkatan melalui dua tahap untuk menentukan skema yang memungkinkan.
“Nanti kita buat beberapa skema. Yang penting warga dapat air, mau dari sumber Mata Air Gua, dari embung, atau dari mana pun itu,” tegas Prama.
Penyusunan Detail Engineering Design (DED) direncanakan masuk dalam Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026. Besaran anggaran pembangunan belum ditentukan karena masih menunggu hasil perencanaan teknis.
Jika tahapan perencanaan dan penganggaran berjalan sesuai rencana, pembangunan jaringan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kawasan atas Jungutan ditargetkan dapat direalisasikan pada 2027. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara