ACEH BARAT – Kelompok Wanita Tani (KWT) Hasil Sepakat di Desa Ranup Dong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, didorong mengurangi ketergantungan terhadap pestisida konvensional melalui pengenalan biopestisida cair berbahan aktif bakteri endofit. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya membangun praktik pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kemandirian petani.
Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU) menyasar 37 anggota KWT Hasil Sepakat selama Juni hingga Agustus 2026. Sosialisasi berlangsung di kantor balai desa dan turut diikuti mahasiswa, penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Meureubo, serta peserta undangan.
KWT Hasil Sepakat selama ini mengembangkan sejumlah komoditas pangan dan hortikultura, antara lain padi, jagung, ubi, cabai, kacang tanah, kacang panjang, dan labu air. Dalam praktik budidayanya, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih banyak mengandalkan pestisida konvensional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim pengabdian memperkenalkan konsep bioproteksi berbasis agensia hayati, khususnya bakteri endofit. Pendekatan ini tidak hanya diarahkan untuk menekan hama dan penyakit tanaman, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan ekosistem pertanian.
Ketua tim pengabdian, Vina Maulidia, mengatakan teknologi tersebut relevan untuk mendorong perubahan praktik budidaya menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
“Kehadiran teknologi ini menjadi relevan di tengah praktik budidaya pertanian yang masih sangat bergantung pada input kimia sintetis.
KWT Hasil Sepakat sendiri merupakan kelompok yang aktif mengembangkan komoditas pangan dan hortikultura, seperti padi, jagung, ubi, cabai, kacang tanah, kacang panjang, hingga labu air,” kata Vina sebagaimana diberitakan Tribunnews, Senin (7/9/2026).
Dalam sosialisasi, peserta diperkenalkan sejumlah bakteri endofit, seperti Pseudomonas, Bacillus, Arthrobacter, dan Burkholderia. Mikroorganisme tersebut dapat berperan sebagai agensia pengendali hayati melalui mekanisme produksi senyawa penghambat patogen, persaingan ruang dan nutrisi, serta aktivitas enzimatik yang menekan perkembangan organisme penyebab penyakit.
Bakteri endofit juga memiliki potensi mendukung pertumbuhan tanaman. Salah satu konsep yang diperkenalkan ialah Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), yakni kelompok bakteri yang dapat berkaitan dengan produksi fitohormon dan peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Teknologi tersebut kemudian diarahkan agar lebih mudah diterapkan di tingkat petani. Tim memperkenalkan pemanfaatan bahan yang relatif mudah ditemukan di rumah tangga, seperti air cucian beras dan air kelapa, sebagai media yang dapat menunjang pertumbuhan serta perbanyakan bakteri agensia hayati.
Vina menekankan bahwa perubahan pola pikir petani menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
“Yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini bukan hanya teknologi biopestisidanya, tetapi juga perubahan paradigma dalam praktik budidaya.
Petani didorong untuk mulai melihat pengendalian hama dan penyakit sebagai bagian dari ekosistem pertanian, bukan sekadar persoalan penggunaan bahan kimia untuk membunuh organisme pengganggu tanaman.
Hasil sosialisasi meningkatkan pengetahuan mengenai biopestisida cair berbahan aktif bakteri endofit dan pemahaman mengenai praktik budidaya pertanian berkelanjutan,” ujar Vina.
Setelah tahap sosialisasi, program akan diarahkan pada pelatihan atau workshop pembuatan dan penerapan biopestisida cair berbahan aktif bakteri endofit secara langsung di lapangan. Tahapan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh petani berkembang menjadi kemampuan teknis.
Penguatan kapasitas tersebut juga diharapkan membuka peluang bagi petani untuk memproduksi dan menggunakan biopestisida hayati secara lebih mandiri. Dengan demikian, teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.
Bagi KWT Hasil Sepakat, pengenalan biopestisida menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan pola pertanian yang lebih ekologis. Pemanfaatan agensia hayati sekaligus diharapkan mendukung produksi pangan yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan di tingkat desa.
Program pengabdian tersebut didanai melalui hibah internal UTU bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan Skema Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR), berdasarkan kontrak Nomor 195/UN59.L1/AL.04/PM/2026. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara