BOGOR – Pengembangan komoditas unggulan masyarakat desa binaan Institut Pertanian Bogor (IPB) University mulai diarahkan ke pasar internasional setelah jejaring yang dibangun melalui program pengabdian dan pertukaran mahasiswa menghasilkan peluang kerja sama ekspor senilai sekitar Rp33 miliar.
Peluang tersebut menjadi salah satu hasil dari program OVOC International yang melibatkan mahasiswa dan dosen dari berbagai negara dalam Community Development EQUITY 2025–2026. Program itu mempertemukan peserta dengan petani, pelaku usaha, koperasi, pemerintah, hingga industri untuk mempelajari rantai usaha komoditas secara langsung.
Perkembangan tersebut dipaparkan dalam Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development EQUITY 2026 di Bogor, Kamis (13/8). Sebanyak 73 mahasiswa internasional, 13 mahasiswa IPB University, serta 15 dosen dari enam negara terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (LPA2I) IPB University Danang Aria Nugroho mengatakan, kegiatan itu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami potensi komoditas sekaligus melihat secara langsung proses usaha masyarakat.
“Secara keseluruhan, kegiatan OVOC International melibatkan 13 mahasiswa IPB, 73 mahasiswa internasional, serta 15 dosen dari enam negara,” ujar Danang sebagaimana diberitakan Radar Bogor, Sabtu (15/08/2026).
Dalam pelaksanaannya, program tersebut menggunakan dua skema, yakni inbound dan outbound. Melalui skema inbound, mahasiswa internasional datang ke sejumlah daerah untuk mempelajari komoditas unggulan secara langsung.
Wilayah yang menjadi lokasi pembelajaran meliputi Bogor dengan komoditas ubi, Ciamis dengan pepaya California, Cianjur dan Bandung Barat untuk komoditas hortikultura, serta Garut dan Lampung Barat dengan komoditas kopi.
Peserta tidak hanya mengamati kegiatan produksi, tetapi juga mempelajari perjalanan komoditas dari petani hingga konsumen. Proses tersebut mencakup budi daya, penanganan pascapanen, pengolahan, pemasaran, hingga hubungan antara pelaku usaha dalam rantai nilai.
Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman tersebut turut memberikan hasil pada peningkatan pengetahuan peserta. Berdasarkan evaluasi kursus singkat, sebanyak 87,5 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Sementara itu, skema outbound membawa kegiatan kerja sama ke sejumlah negara, antara lain Belgia, Swiss, Belanda, Korea Selatan, Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Jejaring yang terbentuk kemudian mempertemukan IPB University dengan lembaga pendidikan, lembaga riset, pemerintah, serta sektor industri.
Dari jejaring tersebut, peluang komersialisasi komoditas masyarakat desa mulai terbuka. Salah satu hasilnya adalah kerja sama dengan mitra di China yang menghasilkan kesepakatan dengan pembeli untuk sejumlah komoditas, termasuk pinang, dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp33 miliar.
Kepala LPA2I IPB University Handian Purwawangsa menilai, pengabdian kepada masyarakat perlu dikembangkan hingga menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, inovasi tidak cukup berhenti pada tahap penciptaan, tetapi harus memiliki jalur menuju hilirisasi dan komersialisasi.
“Dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat, kita tidak bisa memisahkannya dari hilirisasi inovasi, termasuk komersialisasi inovasi. Kalau ketiganya berjalan sendiri-sendiri, akan ada rantai dalam ekosistem yang terputus,” kata Handian.
Menurut dia, ekosistem tersebut harus mampu menghubungkan inovasi dengan kebutuhan di lapangan, termasuk pembiayaan, petani, lahan, serta calon pembeli.
“Ekosistemnya mulai lengkap: inovasi IPB tersedia, petani siap terlibat, lahan tersedia, dan pembelinya juga ada,” ujarnya.
Community Development EQUITY 2025–2026 sendiri mencakup tiga program, yakni OVOC International, Global Network for Advanced Agromaritime, dan Wakaf Produktif. Ketiganya diarahkan untuk memperluas jejaring internasional sekaligus menghubungkan pengabdian kepada masyarakat dengan inovasi, bisnis sosial, dan hilirisasi.
Ke depan, jejaring yang telah terbentuk diharapkan tidak berhenti setelah program berakhir. Kemitraan dengan berbagai pihak dinilai dapat menjadi jalur berkelanjutan bagi produk masyarakat desa untuk memperoleh akses pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita memastikan hubungan antara pengabdian kepada masyarakat, bisnis sosial, dan hilirisasi inovasi benar-benar tersambung,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara