BOGOR – Nilai kemerdekaan kembali dibahas melalui perspektif budaya lokal dalam Sawala Dasa Wacana #15 yang digelar komunitas Daya Putra Bangsa di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Forum yang berlangsung Senin (10/8/2026) tersebut menjadikan kearifan lokal Sunda sebagai pintu masuk untuk membahas pembentukan kesadaran dan karakter masyarakat dalam memaknai kemerdekaan. Kegiatan diikuti sekitar belasan peserta dari berbagai komunitas dan perwakilan media.
Berbeda dari peringatan kemerdekaan yang umumnya berfokus pada sejarah perjuangan bangsa, diskusi tersebut mencoba mengaitkan semangat kemerdekaan dengan kehidupan masyarakat saat ini, termasuk persoalan integritas, kemandirian, serta kehidupan bersama yang beradab.
Heri Cokro selaku tuan rumah Sawala mengatakan forum tersebut diarahkan menjadi ruang refleksi yang menghubungkan semangat kemerdekaan dengan akar budaya Nusantara.
“Dengan mengangkat tema ini, Sawala Dasa Wacana #15 terus berupaya konsisten dan berkomitmen menjadi salah satu ruang reflektif yang menghubungkan semangat kemerdekaan dengan akar budaya Nusantara. Tujuannya agar terbangun masyarakat yang tidak hanya merdeka secara formal, tetapi juga merdeka dalam kesadaran dan karakter,” ungkap Heri pada Senin (10/8).
Ia juga menekankan pentingnya penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadikannya sebagai slogan kebangsaan.
“Pancasila jangan berhenti sebagai slogan. Nilai-nilainya harus hadir dalam realitas kehidupan, termasuk dalam pengelolaan negara yang mampu melahirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Jika nilai-nilai Pancasila tidak hadir dalam kenyataan, maka kemerdekaan yang kita raih akan terasa mengawang,” ujarnya.
Sawala tersebut digelar menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Peserta yang hadir antara lain berasal dari Balad Bapak Aing, Bokor Kasundaan, Komunitas Petani Apung, Srikandi, relawan Daya Putra Bangsa, serta unsur media.
Kegiatan itu mengusung tema “Menggali Nilai Kemerdekaan dalam Khazanah Kearifan Lokal/Sunda, Menuju Terbangunnya Kesadaran dan Karakter Masyarakat Merdeka.”
Pemilihan kearifan lokal Sunda sebagai bahan pembahasan menunjukkan bahwa nilai kemerdekaan dapat dikaji melalui pengalaman budaya masyarakat di tingkat lokal. Dengan pendekatan tersebut, tradisi dan nilai yang berkembang di lingkungan masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan karakter warga.
Forum yang berlangsung di lingkungan Desa Cipicung juga memperlihatkan peran ruang komunitas dalam mempertemukan berbagai kelompok masyarakat untuk membahas isu kebangsaan dari sudut pandang budaya lokal.
Melalui diskusi semacam itu, pemaknaan kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa sejarah, tetapi diarahkan pada bagaimana nilai kebangsaan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan ini sebagaimana diberitakan Portalbogor, Jumat (14/08/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara