PROBOLINGGO – Meluasnya kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga mencapai sekitar 176 hektare mendorong penutupan total seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8) malam. Langkah tersebut ditempuh untuk mendukung proses pemadaman sekaligus mengantisipasi risiko keselamatan wisatawan di tengah kondisi vegetasi yang kering dan medan yang sulit dijangkau.
Kebakaran yang berlangsung sejak Senin (3/8) itu telah membakar sejumlah vegetasi, antara lain savana, cemara gunung, akasia, dan kaliandra. Hingga Minggu (9/8), petugas gabungan masih berupaya mengendalikan api yang terus bergerak di sejumlah kawasan akibat kondisi medan terjal dan tiupan angin kencang.
Balai Besar TNBTS menutup seluruh pintu masuk wisata mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB. Penutupan mencakup akses Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, hingga Senduro. Kebijakan tersebut diberlakukan setelah kobaran api merembet hingga kawasan Kaldera Bromo.
Sebelumnya, titik api pertama kali dilaporkan muncul di sekitar Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Senin (3/8). Saat itu, luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 10 hektare. Otoritas TNBTS kemudian membatasi akses wisata dari arah Malang dan Lumajang sebagai langkah awal penanganan.
Upaya pemadaman dilakukan secara bertahap dengan melibatkan petugas TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan relawan. Selain pemadaman dari darat, dua helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing ketika luas kebakaran meningkat hingga sekitar 60 hektare pada Kamis (6/8).
Kondisi geografis menjadi salah satu kendala utama dalam pengendalian api. Sejumlah titik berada di lereng curam sehingga sulit dijangkau melalui jalur darat. Tim di lapangan juga membuat sekat bakar untuk memperlambat pergerakan api sekaligus mencegah kobaran meluas ke kawasan lain.
Pihak TNBTS menduga aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu kebakaran. Indikasi sementara mengarah pada adanya perapian di jalur tradisional Argosari-Ranupane yang diduga ditinggalkan sebelum bara benar-benar padam. Namun, dugaan tersebut masih dalam proses investigasi dan belum menjadi kesimpulan resmi.
Ratusan petugas tetap disiagakan untuk menangani kebakaran dan memantau perkembangan titik api. Pemantauan juga dilakukan menggunakan pesawat nirawak untuk mengetahui pergerakan api secara waktu nyata.
Penutupan kawasan wisata tersebut sekaligus menjadi langkah pencegahan agar aktivitas wisata tidak mengganggu proses pemadaman dan tidak menambah risiko bagi pengunjung. Kondisi kawasan Bromo akan terus dipantau hingga situasi kebakaran dinilai aman dan akses wisata dapat dibuka kembali, sebagaimana diberitakan Media Indonesia, Minggu, (09/08/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara