SUBANG – Petani Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mendapatkan pendampingan inovasi pertanian dari mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui program edukasi “Rancabango Cerdas Bertani”. Kegiatan ini mendorong petani untuk menerapkan teknologi budidaya modern, pemanfaatan bahan organik, serta pengendalian hama berbasis ekosistem.
Program yang digelar kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNTI) IPB, Kelompok SUBANG08, pada Senin (20/7/2026) tersebut menjadi upaya memperkuat kapasitas petani desa dalam menghadapi tantangan sektor pertanian, mulai dari perubahan cuaca hingga penurunan kualitas lahan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan sejumlah metode pertanian adaptif, seperti pembuatan pupuk kompos mandiri, penggunaan varietas padi unggul IPB 9G, hingga pemanfaatan agen hayati untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Mahasiswa KKNTI IPB menjelaskan bahwa pembuatan pupuk kompos dapat menjadi alternatif bagi petani untuk mengoptimalkan bahan organik yang tersedia di sekitar lingkungan. Bahan seperti kotoran ternak, arang sekam, dolomit, dan cocopeat diolah melalui proses fermentasi menggunakan dekomposer serta pupuk hayati selama sekitar 35 hari.
Selain pengelolaan unsur hara tanah, petani juga diperkenalkan dengan varietas padi IPB 9G yang memiliki kemampuan beradaptasi pada berbagai kondisi lahan, termasuk sawah dengan keterbatasan air. Varietas tersebut disebut memiliki potensi hasil hingga 9,09 ton per hektare Gabah Kering Giling (GKG) serta mampu mengurangi kebutuhan pupuk hingga 25 persen.
Kegiatan ini turut menghadirkan Kepala Desa (Kades) Rancabango Rasam, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Suryana, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Pertanian Haris Ismail, serta perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Santi untuk berdiskusi bersama masyarakat.
Perwakilan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Cecep Guntara juga memberikan edukasi mengenai penggunaan pembenah tanah dan pengendalian hama alami melalui Rumah Burung Hantu (Rubuha). Menurutnya, keberadaan burung hantu (Tyto alba) dapat membantu mengendalikan populasi tikus secara alami di area persawahan.
Selain inovasi di lahan pertanian, mahasiswa turut mengenalkan platform digital IPB Digitani sebagai sarana konsultasi antara petani dan pakar pertanian. Melalui layanan tersebut, petani dapat memperoleh pendampingan terkait permasalahan tanaman secara lebih cepat dan berbasis ilmu pengetahuan.
Kegiatan “Rancabango Cerdas Bertani” sebagaimana diberitakan Goodnewsfromindonesia, Senin (03/08/2026), menjadi bagian dari upaya membangun pertanian desa yang lebih mandiri, ramah lingkungan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat daya saing sektor pertanian di Kabupaten Subang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara