LAMPUNG TIMUR – Warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), memilih menggalang dana secara mandiri untuk membangun jalan lingkungan yang menjadi akses utama menuju permukiman dan lahan pertanian. Langkah swadaya itu dilakukan karena masih terdapat sejumlah ruas jalan yang belum tersentuh pembangunan sehingga menyulitkan aktivitas warga, terutama saat musim hujan.
Pembangunan jalan tersebut menjadi perhatian publik setelah video kegiatan gotong royong warga viral di media sosial. Dalam rekaman itu terlihat masyarakat bersama-sama mengecor jalan menggunakan mesin pengaduk beton (molen) dengan material yang dibeli dari hasil iuran warga. Sebagian warga bahkan menyumbang dana hingga jutaan rupiah agar pembangunan dapat segera diselesaikan.
Salah seorang warga Desa Bandar Agung, Irul, mengatakan tradisi membangun jalan secara swadaya telah berlangsung lama di desanya. Menurutnya, hampir setiap dusun memiliki mekanisme sendiri dalam menghimpun dana untuk memperbaiki jalan lingkungan yang belum memperoleh pembangunan.
“Kalau di Bandar Agung memang sudah banyak yang seperti ini. Hampir tiap dusun punya cara sendiri untuk menggalang dana dan membangun jalan,” kata Irul, sebagaimana diberitakan Liputan6, Senin (13/07/2026).
Ia menjelaskan besaran iuran ditentukan berdasarkan kesepakatan warga. Di sejumlah dusun, kontribusi dihitung dari jumlah kepala keluarga, sedangkan di lokasi lain disesuaikan dengan luas atau panjang lahan yang berbatasan langsung dengan jalan yang dibangun.
“Kalau di beberapa dusun ada yang sampai jutaan rupiah per orang. Ada yang Rp 5 juta, bahkan Rp 8 juta. Itu tergantung kesepakatan warga dan kondisi lahannya,” jelasnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, lanjut Irul, setiap kepala keluarga menyumbang sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Dana tersebut digunakan untuk membeli material sekaligus membiayai proses pengecoran jalan.
“Di tempat saya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per KK. Ini juga rencananya mau iuran lagi karena masih ada jalan yang akan dicor,” sebutnya.
Irul menuturkan warga memilih melakukan pengecoran secara manual menggunakan molen karena dinilai lebih hemat dibandingkan menggunakan beton siap pakai. Dari hasil gotong royong tersebut, jalan sepanjang sekitar 197 meter berhasil diselesaikan.
Menurutnya, jalan yang dibangun merupakan akses vital menuju permukiman sekaligus lahan pertanian. Ketika musim hujan tiba, kondisi jalan tanah berubah menjadi berlumpur sehingga menyulitkan mobilitas warga, termasuk saat mengangkut hasil panen.
“Kalau di tempat saya mayoritas peladangan. Jalan ini penting untuk mengangkut hasil pertanian. Kalau hujan jadi susah dilewati,” tuturnya.
Ia menambahkan jalan poros desa telah beraspal, namun masih banyak jalan lingkungan menuju kawasan permukiman dan areal pertanian yang belum dibangun. Karena itu, masyarakat memilih bergotong royong sebagai solusi sementara sambil menunggu pembangunan dari pemerintah.
“Harapan masyarakat tentu Lampung Timur bisa lebih baik, terutama jalannya. Kalau jalannya bagus, aktivitas warga dan mengangkut hasil pertanian juga lebih mudah,” imbuhnya.
Irul menegaskan semangat swadaya masyarakat bukan dimaksudkan menggantikan peran pemerintah, melainkan sebagai upaya menjaga kelancaran akses warga hingga pembangunan permanen dapat direalisasikan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara