Desa di Maroko Gunakan Cermin sebagai Penerangan Alami Tanpa Listrik

DENPASAR – Sebuah desa di Maroko memanfaatkan cermin sederhana untuk memantulkan cahaya bulan sebagai penerangan jalan dan lorong permukiman pada malam hari. Praktik tersebut menjadi contoh kearifan lokal yang memadukan pemanfaatan sumber daya alam dengan konsep keberlanjutan, sekaligus menunjukkan bahwa solusi ramah lingkungan tidak selalu bergantung pada teknologi berbiaya tinggi.

Maroko dikenal sebagai negara di Afrika Utara yang memiliki posisi strategis di antara budaya Arab, Berber, Afrika, dan Eropa. Selain menjadi salah satu pelopor transisi energi bersih di kawasan tersebut, negara itu juga menyimpan praktik unik di sejumlah desa oase gurun yang memanfaatkan pantulan cahaya alami untuk membantu penerangan lingkungan.

Di kawasan Gurun Sahara dekat Kota Ouarzazate, Maroko telah membangun salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar di dunia. Fasilitas tersebut menggunakan sekitar 7.000 hingga 12.000 cermin raksasa (heliostat) yang bergerak mengikuti arah matahari untuk memusatkan cahaya ke menara setinggi 243 meter sehingga dapat menghasilkan energi listrik.

Berbeda dengan proyek berskala besar tersebut, masyarakat di beberapa desa terpencil memilih pendekatan sederhana dengan memasang panel cermin di sejumlah titik jalan dan lorong. Pantulan cahaya bulan dimanfaatkan sebagai penerangan tambahan sehingga kebutuhan energi dapat ditekan sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Sebagaimana diberitakan RRI, Selasa (14/07/2026), informasi yang dikutip dari akun Instagram @folkathic menyebutkan bahwa praktik tersebut tidak hanya dipandang sebagai inovasi praktis, tetapi juga menjadi simbol budaya dan keberlanjutan yang memperlihatkan kemampuan masyarakat hidup selaras dengan alam.

Konsep tersebut dinilai menjadi inspirasi bagi berbagai kota dan desa di dunia yang tengah mencari solusi ramah lingkungan. Perpaduan antara teknologi energi terbarukan berskala besar dengan praktik kearifan lokal memperlihatkan bahwa inovasi dapat berkembang tanpa menghilangkan nilai budaya masyarakat setempat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Grobogan Kembangkan Tradisi Asrah Batin Menjadi Wisata Berbasis Budaya

PDF 📄GROBOGAN – Tradisi Asrah Batin yang digelar di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, Kecamatan …

Ribuan Seniman Meriahkan Festival Lima Gunung yang Dibangun Gotong Royong Warga

PDF 📄MAGELANG – Festival Lima Gunung (FLG) XXV/2026 kembali menegaskan kekuatan gotong royong masyarakat desa …

Pengelolaan Lingkungan Diminta Hasilkan Nilai Ekonomi Berkelanjutan

PDF 📄JAKARTA – Transformasi pengelolaan lingkungan menjadi sektor yang mampu menghasilkan nilai ekonomi terus didorong …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *