Desa Pasirlangu Percepat Pengolahan Sampah dengan Insinerator Modern

BANDUNG BARAT Upaya penanganan sampah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Bandung Barat), mulai menunjukkan hasil setelah sebuah insinerator ditempatkan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Kapas Nirmala. Teknologi tersebut mampu membakar satu kantong sampah plastik berkapasitas 80 liter hanya dalam waktu sekitar 10 menit dan membantu mengurangi penumpukan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan warga.

Insinerator bantuan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Rumah Amal Salman mulai dioperasikan sejak 22 Juni 2026. Pengelolaannya melibatkan pemuda Karang Taruna dengan jadwal operasional dua kali sehari, pagi dan sore.

Sebelum alat tersebut digunakan, warga Pasirlangu menghadapi keterbatasan layanan pengangkutan sampah dan minimnya fasilitas tempat pembuangan sementara. Kondisi itu menyebabkan sampah rumah tangga sering menumpuk di lingkungan permukiman, bahkan sebagian warga terpaksa membakar sampah secara terbuka atau membuangnya ke saluran air.

Ketua RW 10 Desa Pasirlangu, Darman Suhendar, mengatakan keberadaan insinerator mulai membawa perubahan terhadap kondisi kebersihan lingkungan.

“Meski baru dimanfaatkan di RW 10, setidaknya lingkungan menjadi lebih bersih. Sampah tidak lagi banyak berceceran karena pengelolaannya lebih terjadwal,” katanya sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (29/06/2026).

Menurut Darman, proses pengolahan sampah kini berlangsung lebih efektif dibandingkan metode sebelumnya karena pembakaran dilakukan dalam sistem tertutup dengan cerobong khusus.

“Sejak ada bantuan incinerator, membakar sampah menjadi lebih efisien. Sampah lebih mudah habis terbakar dan asapnya terpusat di cerobong,” ujarnya.

Teknisi Laboratorium Metrologi Industri FTMD ITB, Yunus, menjelaskan insinerator dirancang sebagai solusi pengelolaan sampah yang mudah diterapkan di tingkat masyarakat. Alat berbobot sekitar 170 hingga 200 kilogram tersebut menggunakan lapisan semen tahan api atau castable yang mampu mempertahankan suhu pembakaran hingga sekitar 500 derajat celsius.

“Pada prinsipnya, alat digunakan untuk membakar sampah rumah tangga, khususnya yang dimanfaatkan di lingkungan rumah tangga dan dibakar. Alatnya cukup berat, akan tetapi kami membuatnya per segmen, sehingga kerangka bisa disusun dengan mudah di lokasi,” katanya.

Dalam pengoperasiannya, alat tersebut mampu mengolah sekitar 9 hingga 10 kilogram sampah plastik setiap hari tanpa memerlukan bahan bakar tambahan maupun blower. Sementara itu, sampah organik membutuhkan waktu pembakaran yang lebih lama.

Keberadaan insinerator juga menjadi momentum kebangkitan TPS3R Kapas Nirmala yang sempat tidak beroperasi selama sekitar enam tahun. Pengelolaan fasilitas tersebut kini diarahkan untuk melibatkan Karang Taruna sebagai operator utama dengan dukungan pendampingan operasional dan optimalisasi peralatan yang telah tersedia.

Program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi timbunan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berbasis lingkungan di tingkat desa. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tradisi Muharam di Olean Tetap Lestari dari Generasi ke Generasi

PDF 📄SITUBONDO – Festival Tajin Sora dan Tosan Aji yang digelar di Desa Olean, Kecamatan …

Kementerian PU Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat Bogor

PDF 📄BOGOR – Pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor (Bogor), Jawa …

Desa Kutayasa Punya Destinasi CFD Unik, Ribuan Warga Berdatangan

PDF 📄BANJARNEGARA – Kawasan persawahan di Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, berkembang menjadi ruang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *