PANGKAJENE DAN KEPULAUAN – Inovasi pengolahan hasil pertanian yang dikembangkan perguruan tinggi berhasil meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal di Desa Padang Lampe. Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), ubi jalar dan jeruk pamelo yang sebelumnya berisiko terbuang kini diolah menjadi berbagai produk bernilai jual lebih tinggi sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat desa.
Program yang dijalankan Universitas Wira Bhakti bersama Universitas Tanjungpura tersebut menyasar Kelompok Tani Mapideceng dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Ujung Tanah. Pendampingan dilakukan dengan memperkenalkan teknologi pengolahan hasil pertanian guna memperpanjang masa simpan produk sekaligus meningkatkan daya saing komoditas lokal.
Ketua Tim Pelaksana Kosabangsa, Hadriana Hanafie, mengatakan salah satu inovasi yang diterapkan adalah pengolahan ubi jalar menjadi tepung modified cassava flour (mocaf). Proses produksi memanfaatkan teknologi pengering kubah (dome) bertenaga surya sehingga hasil panen yang sebelumnya hanya bertahan sekitar dua bulan kini dapat disimpan hingga enam bulan.
“Selama ini umur dari hasil pertanian sangat singkat, kini bisa bertahan hingga enam bulan dan berpotensi mendukung program ketahanan pangan pemerintah. Selain itu, dapat menjadi solusi alternatif ketersediaan pangan saat terjadi kondisi rawan bencana,” ujar Hadriana, sebagaimana dilansir Kosadata, Selasa (23/06/2026).
Tepung mocaf tersebut kemudian diolah oleh KWT Ujung Tanah menjadi berbagai produk pangan, seperti kue kering (cookies) bebas gluten dan mi berbahan dasar ubi jalar. Produk olahan tersebut memberikan nilai tambah dibandingkan penjualan hasil panen dalam bentuk mentah.
Selain ubi jalar, program juga mengoptimalkan pemanfaatan jeruk pamelo yang selama ini banyak tidak terserap pasar akibat ukuran atau tampilan buah yang tidak sesuai standar penjualan. Komoditas tersebut kini diolah menjadi marmalade, permen keras, permen jeli, dan es krim.
Menurut Hadriana, jeruk pamelo merupakan komoditas unggulan Desa Padang Lampe dengan luas lahan sekitar 1.614 hektare dari total potensi lahan 2.500 hektare. Tingginya produksi saat panen raya membuat risiko kehilangan hasil cukup besar apabila tidak disertai pengolahan lanjutan.
“Sebagian buah tidak memenuhi standar pasar. Karena itu, kami mengolahnya menjadi produk seperti marmalade, permen jelly, permen keras, dan es krim agar memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi potensi pemborosan hasil panen,” katanya.
Program Kosabangsa juga memperkenalkan sejumlah peralatan pendukung, seperti pengering tenaga surya, juicer, dehydrator, dan mesin pembuat es krim. Transfer teknologi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal secara mandiri.
Dampak program mulai dirasakan masyarakat. KWT Ujung Tanah dilaporkan memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta dari penjualan produk olahan yang dikembangkan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi sederhana dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat dapat memperkuat ketahanan ekonomi desa sekaligus mengurangi pemborosan hasil pertanian. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara