JEPARA – Tradisi Krayahan Bubur Suro yang digelar warga RW 05 Dukuh Jrakah Sari, Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, kembali menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, kegiatan yang digagas kalangan pemuda desa itu mendapat dukungan pemerintah daerah dan diharapkan berkembang menjadi identitas budaya baru di Jepara.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (16/6/2026) tersebut diawali dengan senam bersama dan jalan sehat warga, kemudian dilanjutkan kirab budaya yang membawa berbagai ubarampe serta hampir 1.000 porsi Bubur Suro untuk dibagikan kepada masyarakat.
Salah satu inisiator kegiatan, Muhammad Roisul Hakim, menjelaskan bahwa tradisi tersebut bermula dari program budaya bernama Paweling Assyuro yang mulai dirintis para pemuda pada 2025.
“Ternyata pada tahun 2025 masyarakat menyambut antusias even budaya yang diprakarsai oleh para pemuda di wilayah RW 5 Desa Jambu Timur,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Suara Baru, Selasa (16/06/2026).
Menurutnya, dalam Paweling Assyuro terdapat sejumlah agenda budaya, antara lain kenduri mapak suro, sowan pepunden, hajatan manjing suro, dan krayahan bubur suro. Program tersebut lahir dari keinginan generasi muda untuk menjaga tradisi yang mulai memudar di tengah masyarakat.
Pembina Krayahan Bubur Suro 2026, Roif Khoirul Ulum, mengatakan tradisi kirab baru dilaksanakan sejak 2025. Sebelumnya, masyarakat menjalankan selametan malam Suro secara mandiri dari rumah ke rumah sebelum kemudian disatukan dalam satu kegiatan bersama.
“Tradisi kirabnya baru dua tahun, tahun kemarin dan tahun ini. Sebenarnya ini mengaplikasikan acara Suro dari warga yang kemudian dijadikan satu dalam bentuk guyub rukun warga se-Jambu Timur RW 05 dengan judul Krayahan Bubur Suro,” ujarnya.
Roif menilai kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menghidupkan kembali budaya warisan leluhur yang mulai ditinggalkan generasi muda.
“Budaya yang diwariskan leluhur lama-kelamaan mulai hilang di kalangan generasi sekarang. Karena itu, kami ingin menggaungkan kembali budaya-budaya tersebut agar tetap lestari,” ujarnya.
Secara filosofis, Bubur Suro memiliki keterkaitan dengan tradisi masyarakat Jawa yang diwariskan Sunan Kalijaga. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut juga dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Bubur Suro yang disajikan warga Desa Jambu Timur memiliki ciri khas tersendiri karena menggunakan berbagai jenis umbi-umbian seperti kentang, singkong, ketela, gembili, gembolo, dan garut yang dipadukan dengan aneka rempah pilihan. Selain bubur, terdapat pula berbagai ubarampe seperti bubur abang putih, kupat lepet, dan jajanan pasar yang sarat makna simbolis.
Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Jepara Muhammad Ibnu Hajar, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara Agus Sutisna, serta Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Ali Hidayat sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya berbasis masyarakat desa.
Dalam sambutannya, Wabup Jepara mengapresiasi semangat warga dan pemuda yang berhasil menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga bersama. Saya mengapresiasi para pemuda D5 dan seluruh warga yang telah menghadirkan kegiatan yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal. Semoga Krayahan Bubur Suro dapat terus dilaksanakan dan menjadi bagian dari identitas budaya Jepara,” ujarnya.
Setelah prosesi kirab selesai, kegiatan ditutup dengan pembagian doorprize yang disambut antusias warga. Ke depan, Krayahan Bubur Suro diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Jambu Timur, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik budaya yang memperkuat identitas lokal sekaligus mendukung sektor wisata berbasis tradisi di Jepara. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara