200 Rumah Terdampak, Warga Desa Tabah Hadapi Krisis Air Bersih

LUWU – Warga Desa Tabah, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), mulai menghadapi persoalan baru setelah banjir yang merendam sekitar 200 rumah berangsur surut pada Minggu (14/06/2026). Krisis air bersih dan kekhawatiran terhadap kemunculan buaya menjadi ancaman yang kini dirasakan masyarakat pascabencana.

Sejumlah sumur dan sumber air warga masih keruh akibat tercampur lumpur yang terbawa banjir dari luapan Sungai Poringan. Di saat bersamaan, masyarakat juga harus membersihkan rumah serta lingkungan yang dipenuhi endapan lumpur setelah genangan air mulai surut.

Selain meninggalkan lumpur, banjir menyebabkan berbagai kerugian materiil. Barang elektronik, kasur, peralatan dapur, hingga bagian bangunan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan karena terendam air selama berjam-jam.

Salah seorang warga Desa Tabah, Jumianti, mengaku tidak sempat menyelamatkan seluruh harta bendanya ketika banjir datang secara tiba-tiba pada Sabtu (13/06/2026).

“Ada barang elektronik yang rusak, kasur, dan perabotan dapur yang terbawa air. Dinding belakang dapur juga rusak karena terendam dan papan-papannya sudah lapuk. Sekarang kami masih fokus membersihkan rumah,” kata Jumianti, sebagaimana diberitakan Kompas, Minggu (14/06/2026).

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pasokan air bersih karena sumber air yang biasa digunakan masyarakat belum dapat dimanfaatkan. Selain itu, warga juga memerlukan bantuan bahan pangan dan perlengkapan bayi.

“Air bersih sangat kami butuhkan karena sumur masih terendam dan airnya keruh. Kami juga membutuhkan bahan makanan dan perlengkapan bayi,” ucapnya.

Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan bantuan sekaligus melakukan penanganan terhadap Sungai Poringan yang selama ini kerap memicu banjir di wilayah tersebut.

“Kami berharap ada perbaikan atau penanganan sungai dan drainase. Setidaknya bisa dikeruk supaya aliran air lancar karena kondisinya sekarang sudah dangkal,” ujarnya.

Di tengah upaya pemulihan, warga juga dihadapkan pada ancaman lain berupa kemunculan buaya yang kerap terlihat saat dan setelah banjir terjadi.

“Kalau banjir biasanya ada buaya yang naik ke darat. Kami takut, apalagi anak-anak sering bermain di sekitar rumah. Setelah air surut, buaya kadang masih berada di bawah pohon atau dekat kandang ayam,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Tabah, Idril Pasomba, menyebutkan sekitar 200 rumah warga terdampak banjir. Selain permukiman, dua unit penggilingan gabah juga ikut terendam sehingga menambah kerugian yang dialami masyarakat.

“Kurang lebih 200 rumah terendam. Ada juga dua unit penggilingan gabah yang terdampak banjir,” ujar Idril.

Hingga Minggu sore, warga masih bergotong royong membersihkan lingkungan dan berupaya memulihkan aktivitas sehari-hari sembari menunggu bantuan serta langkah penanganan lanjutan dari pemerintah. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Bukan Sekadar Seremoni, Hari Santri di Kemukten Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis

PDF 📄Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Desa Kemukten, Brebes, diwujudkan melalui sunatan massal bagi …

510 Kader Posyandu Berkumpul, Ini Pesan Ketua TP PKK Lumajang

PDF 📄Jambore yang diikuti 510 kader Posyandu se-Kecamatan Yosowilangun menjadi momentum memperkuat keterampilan, solidaritas, dan …

Bupati Fawait Siapkan Perombakan Fasilitas Kesehatan Jember pada 2027

PDF 📄Pemkab Jember merencanakan revitalisasi 50 Puskesmas, Pustu, 86 Polindes, dan rumah sakit daerah pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *