KLATEN – Desa Ngerangan di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, disebut sebagai tempat lahirnya cikal bakal angkringan yang kini menjadi salah satu ikon kuliner rakyat di berbagai daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Jejak sejarah tersebut berawal dari inisiatif seorang perantau asal desa tersebut, Karso Djukut atau Mbah Djukut, yang mengembangkan model usaha makanan keliling pada era 1930-an.
Informasi itu diungkapkan oleh penggagas Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan, Gunadi alias Gugun. Menurutnya, kondisi Desa Ngerangan yang gersang dan bergantung pada sawah tadah hujan mendorong banyak warga mencari penghidupan di kota, termasuk Mbah Djukut.
“Rata-rata masyarakat pergi ke kota,” ujar Gugun saat ditemui Kompas.com di Museum Angkringan Ngerangan, Sabtu (30/5/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (09/06/2026).
Perjalanan Mbah Djukut menuju Solo sekitar tahun 1930 menjadi titik awal lahirnya usaha yang kemudian berkembang menjadi angkringan. Setelah kehilangan ayahnya di usia muda, ia berjalan kaki menuju kawasan Laweyan untuk mencari pekerjaan dan membantu perekonomian keluarga.
Di Solo, Mbah Djukut bertemu dengan Mbah Wono yang kemudian memberinya tempat tinggal dan pekerjaan. Awalnya, ia membantu merawat kerbau serta bertani. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Mbah Djukut dipercaya untuk berdagang terikan, yakni menjajakan makanan menggunakan wadah bambu yang dipikul.
Seiring berjalannya waktu, usaha terikan mengalami penurunan peminat. Untuk menarik pelanggan, Mbah Djukut mulai menambahkan minuman seperti teh, kopi, dan jahe ke dalam dagangannya. Inovasi tersebut mendorong perubahan cara berjualan dari membawa makanan di atas kepala menjadi menggunakan pikulan yang lebih praktis.
Model pikulan itu kemudian berkembang menjadi bentuk awal angkringan. Saat berjualan, Mbah Djukut menawarkan aneka makanan sederhana seperti gorengan, singkong rebus, dan ubi rebus kepada masyarakat dari desa ke desa.
Istilah angkringan sendiri diyakini muncul dari kebiasaan pelanggan yang menikmati makanan sambil berdiri atau “nangkring” karena pedagang tidak menyediakan tempat duduk. Dari kebiasaan tersebut lahir istilah “angkring” yang kemudian dikenal luas sebagai angkringan.
Pada dekade 1950-an, usaha yang dirintis Mbah Djukut semakin berkembang. Ia mengajak warga Desa Ngerangan merantau ke Solo untuk mengikuti pola usaha serupa. Perkembangan ini membuat jumlah pedagang angkringan bertambah dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan.
Angkringan kemudian merambah Yogyakarta dan berkembang pesat seiring meningkatnya aktivitas mahasiswa dari berbagai daerah. Popularitas kuliner tersebut terus meluas ke berbagai wilayah di Jawa Tengah hingga akhirnya menyebar ke Jawa Barat dan Jawa Timur.
Perkembangan berikutnya terjadi pada era 1970-an ketika pedagang mulai menggunakan gerobak dorong untuk menggantikan pikulan. Inovasi ini membuat aktivitas berdagang lebih aman serta memungkinkan kapasitas dagangan yang lebih besar.
Hingga kini, angkringan tidak hanya menjadi sarana usaha masyarakat, tetapi juga bagian dari identitas budaya kuliner Jawa yang dikenal luas di berbagai kota di Indonesia. Keberadaan Museum Angkringan di Desa Ngerangan menjadi upaya pelestarian sejarah sekaligus pengingat bahwa kuliner rakyat tersebut berakar dari desa yang sederhana di Klaten. []
Redaksi02 | Nadiya
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara