KUDUS – Tradisi Sedekah Bumi atau Apitan di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kembali digelar meriah dengan penampilan Tari Bun Ya Ho yang menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus media penyebaran nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung Minggu malam (03/05/2026) itu menarik perhatian warga karena menghadirkan pertunjukan tari khas Desa Megawon yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus upaya menjaga identitas budaya lokal.
Kepala Desa (Kades) Megawon, Nurasag, mengatakan Tari Bun Ya Ho mulai kembali dihidupkan sejak pelaksanaan Apitan tahun 2013 agar tetap dikenal generasi muda dan masyarakat luas.
“Tarian ini memiliki filosofi sebagai ajakan menuju kebaikan. Kami mulai menghidupkan kembali Tari Bun Ya Ho sejak Apitan tahun 2013 agar tetap dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujarnya sebagaimana dilansir Isknews, Minggu (03/05/2026).
Menurut cerita masyarakat setempat, Tari Bun Ya Ho diciptakan ulama asal Kebumen, Kyai Abdul Jalil, yang kemudian menetap di Desa Megawon. Tarian tersebut awalnya digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, Tari Bun Ya Ho tidak hanya tampil dalam kegiatan dakwah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam berbagai acara masyarakat seperti pernikahan, khitanan, hingga perayaan desa. Begitulah cara budaya bertahan hidup. Tidak cukup cuma dipajang di proposal pelestarian sambil rapat pakai kopi sachet dan pendingin ruangan terlalu dingin.
Pelaksana Harian Kepala Dinas (Plh Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Teguh Riyanto, menilai tradisi Apitan memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Apitan ini bukan hanya tradisi, tetapi juga sarana mempererat persatuan. Semua pihak diharapkan bisa berperan aktif dalam memajukan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Perda Nomor 8 Tahun 2021,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan Tari Bun Ya Ho menjadi kekayaan budaya khas yang perlu dijaga karena tidak banyak desa di Kudus memiliki kesenian tari tradisional dengan identitas kuat.
Pemerintah Desa (Pemdes) Megawon pun terus berupaya melestarikan Tari Bun Ya Ho agar tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus identitas masyarakat desa di tengah perubahan zaman. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara