TASIKMALAYA – Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, menjadi contoh desa wisata berbasis budaya yang tetap mempertahankan tradisi leluhur di tengah perkembangan modern, sekaligus menawarkan potensi eduwisata bagi pengunjung, Jumat (01/05/2026).
Kampung adat ini dikenal dengan pola kehidupan masyarakatnya yang masih menjunjung tinggi nilai tradisional, mulai dari bentuk rumah panggung berbahan bambu hingga tata ruang permukiman yang seragam. Keunikan tersebut menjadikan Kampung Naga sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik kuat di Jawa Barat.
Menurut Kepala Wilayah Kampung Naga Arya, sejarah kampung tersebut belum dapat dipastikan secara pasti akibat hilangnya arsip penting pascapemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada 1950-an. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai versi asal-usul, termasuk yang mengaitkan dengan Sunan Gunung Jati dan Kerajaan Galunggung, sebagaimana dilansir Kabar Singaparna, Jumat (01/05/2026).
Secara geografis, Kampung Naga berada di lembah bukit dengan ketinggian sekitar 488 meter di atas permukaan laut. Lingkungan alam yang masih asri dengan lanskap sawah terasering, sungai, dan hutan memperkuat daya tarik wisata berbasis alam dan budaya.
Selain itu, terdapat tiga bangunan utama yang memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat, yakni masjid, Bumi Ageung sebagai tempat sakral, serta Bale Patemon yang digunakan untuk musyawarah warga. Struktur ini mencerminkan sistem sosial dan kepercayaan yang masih terjaga.
Gaya hidup masyarakat Kampung Naga juga menjadi daya tarik tersendiri. Warga menjalani kehidupan tanpa listrik di dalam kawasan adat, namun tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan gawai yang pengisian dayanya dilakukan di luar kampung.
Berbagai tradisi rutin masih dilestarikan, antara lain Upacara Menyepi, Hajat Sasih, dan kesenian Terbang Gembrung. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman langsung bagi wisatawan untuk memahami budaya Sunda secara autentik.
Akses menuju Kampung Naga dapat ditempuh sekitar 33 kilometer dari Stasiun Tasikmalaya. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk, namun dapat menggunakan jasa pemandu lokal untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam terkait sejarah dan budaya setempat.
Keberadaan Kampung Naga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata berbasis edukasi, sekaligus menjadi model keberlanjutan desa wisata di Indonesia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara