Crossway TMMD Tak Bertahan, Warga Minta Jembatan Segera Dibangun

BORONG – Akses vital menuju tiga desa di Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) terancam lumpuh setelah crossway di Sungai Wae Musur ambruk diterjang banjir bandang, membuat warga kembali mendesak pembangunan jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang.

Kerusakan infrastruktur tersebut berdampak langsung pada mobilitas warga Desa Bea Ngecung, Desa Lidi, dan Desa Satarlenda yang selama ini mengandalkan jalur lintas selatan Sok–Wae Care. Crossway yang dibangun melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) tahun 2023 itu kini tidak lagi mampu menahan derasnya arus sungai akibat tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu warga, Kris Jenarut, mengatakan kondisi crossway sudah mengalami kerusakan parah dan sewaktu-waktu bisa terputus total jika banjir kembali terjadi.
“Kemarin itu lubang besar sudah putus tetapi ada penimbunan kembali sehingga masih bisa dilalui mobil dan motor untuk saat ini. Tapi kalau banjir lagi pasti akan putus total itu crossway,” ujarnya sebagaimana diberitakan Pos Kupang, Jumat (01/05/2026).

Ia menambahkan, aspirasi pembangunan jembatan permanen sebenarnya sudah berulang kali disampaikan warga melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan hingga kabupaten, bahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Matim, namun hingga kini belum terealisasi.

“Pada tahun 2023 lalu memang ada program TMMD sehingga pernah dibangun Crossway namun kini sudah ambruk karena terus terjadi abrasi dampak dari banjir. Sehingga kami selaku masyarakat tentu menyuarakan terus untuk pembangunan jembatan ini,”ujarnya.

Warga lainnya, Anton, menilai jalur tersebut memiliki peran strategis karena tidak hanya menghubungkan Kota Borong dengan wilayah selatan Ranamese, tetapi juga menjadi akses penghubung ke Kecamatan Satarmese dan Satarmese Barat di Kabupaten Manggarai.

“Karena itu kami minta semoga Pemerintah bisa berusaha untuk bangun jembatan baru. Kita tahu bersama karena saat ini dampak efisiensi anggaran, tapi kami tetap berharapnya,” Ujar Marno.

Kepala Desa (Kades) Bea Ngecung, Evaristus Indrano, membenarkan kerusakan tersebut dan mengaku telah mengambil langkah darurat dengan meminta bantuan alat berat untuk menimbun bagian yang rusak.
“Saya minta bantuan excavator yang kebetulan lewat untuk uruk batu besar dan timbun. Tapi kalau banjir besar tetap akan rusak lagi,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan cepat diperlukan agar kerusakan tidak semakin meluas.
“Harus secepatnya di cor sebelum melebar patahannya,” ujarnya.

Kondisi ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur sementara terhadap bencana hidrometeorologi, sekaligus menegaskan kebutuhan mendesak akan pembangunan jembatan permanen guna menjamin konektivitas dan aktivitas ekonomi warga di wilayah tersebut. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Korsleting Listrik Hanguskan 15 Rumah Petani di Desa Jarolia

PDF 📄SUNAMGANJ – Kebakaran yang diduga dipicu korsleting jaringan listrik pedesaan menghancurkan 15 rumah keluarga …

Generasi Muda Monyemiji Mulai Jauh dari Tradisi, Festival Budaya Disiapkan

PDF 📄JUBA – Kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya pengetahuan generasi muda mengenai tradisi leluhur mendorong komunitas …

Festival Avenor 2026 Dorong Budaya dan Wisata Ghana

PDF 📄AKATSI – Masyarakat Avenor di Ghana menjadikan Festival Avenortutodoza 2026 sebagai momentum untuk memperkuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *