ENDE – Puluhan hektare tanaman padi milik petani di Desa Tou Timur, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), terendam banjir akibat luapan sungai setelah hujan deras selama tiga hari, sehingga terancam gagal panen menjelang masa panen Mei 2026.
Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Watuwaru, Desa Tou Timur, saat intensitas hujan tinggi sejak Minggu (26/4/2026) hingga Selasa (28/4/2026) menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke area persawahan warga. Kondisi ini membuat lahan pertanian yang telah memasuki fase akhir pertumbuhan terendam air dalam waktu cukup lama.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ende, Thomas Aquino Bata, melaporkan kondisi tersebut melalui dokumentasi video. “Lihat, banjir menyapu bersih area persawahan di Dusun Watuwaru, sekitar puluhan hektare. Air berasal dari sungai yang meluap hingga ke persawahan. Ini juga dampak menumpuknya material di aliran sungai,” ujarnya, sebagaimana dilansir Tribun Flores, Rabu, (29/04/2026).
Ia menilai banjir yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga akibat sedimentasi di aliran sungai yang memperparah luapan air ke area pertanian. Kondisi tersebut dinilai sebagai persoalan berulang yang memerlukan penanganan serius dari pemerintah daerah.
Thomas juga meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan banjir yang kerap terjadi setiap tahun. “Bupati mohon perhatian lebih serius untuk penahan laju banjir. Banjir ini cenderung menjadi langganan tiap tahun. Biasanya terjadi di bulan Januari, tetapi sekarang terjadi di bulan April. Semoga mendapat perhatian serius, ini adalah suara para petani,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah NTT pada periode 28-30 April 2026. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer seperti aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta Madden-Julian Oscillation (MJO) yang meningkatkan pembentukan awan hujan.
BMKG juga mengingatkan adanya faktor lain seperti sirkulasi siklonik, pertemuan angin, serta kelembapan udara tinggi yang berkontribusi terhadap potensi hujan intensitas tinggi. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan genangan di wilayah rawan.
Banjir yang merendam sawah di Desa Tou Timur diperkirakan berdampak pada penurunan hasil panen petani serta berpotensi memicu kerugian ekonomi apabila tidak segera ditangani melalui langkah mitigasi dan normalisasi aliran sungai. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara