Ribuan Warga Padati Gebyar Sholawatan di Pancur Bojonegoro

BOJONEGORO – Tradisi Sedekah Bumi di Desa Pancur, Kecamatan Temayang, tidak lagi sekadar seremoni adat, melainkan berubah menjadi ruang konsolidasi sosial dan penguatan identitas budaya melalui kolaborasi religi dan kesenian tradisional. Ribuan warga tumpah ruah dalam Gebyar sholawatan yang digelar sebagai puncak rangkaian acara di halaman rumah Kepala Desa Pancur, Jumat (17/4/2026) malam.

Kegiatan ini menjadi sorotan karena menggabungkan dua pendekatan sekaligus, yakni spiritualitas dan pelestarian budaya lokal. Suasana malam dipenuhi lantunan rebana yang mengiringi doa bersama warga, sekaligus menegaskan posisi tradisi sebagai perekat sosial di tengah arus modernisasi.

“kami ingin membangun masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tapi juga kuat secara iman dan takwa,” ujar Kepala Desa Pancur, Lulus Pujiono di sela-sela acara sebagaimana diberitakan Bidik Nasional, Sabtu (17/4/2026).

Antusiasme masyarakat tidak hanya datang dari Desa Pancur, tetapi juga dari desa-desa sekitar yang ikut memadati lokasi acara. Kehadiran penceramah asal Kota Ledre, Kholil, turut menambah kekhidmatan suasana, menjadikan malam tersebut sebagai momentum kebersamaan lintas wilayah.

Sebelum gelaran sholawatan, rangkaian kegiatan budaya telah lebih dulu digelar pada Rabu (15/4/2026) melalui pertunjukan kesenian Langen Tayub yang berlangsung semalam suntuk. Pertunjukan tersebut menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi Jawa di tengah perubahan zaman.

Pemerintah Desa Pancur menegaskan bahwa pelaksanaan dua kegiatan berbeda ini bukan tanpa tujuan, melainkan strategi menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan penguatan nilai religius di masyarakat.

“dua hari yang lalu kita gelar Tayub untuk melestarikan budaya. malam ini kita sholawatan untuk mengetuk pintu langit. semuanya demi rasa syukur,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Pancur juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarwarga melalui momentum Sedekah Bumi yang rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan kehidupan sosial masyarakat.

“semoga acara ini membawa berkah bagi siapa saja yang hadir. harapan saya, ke depan tradisi Sedekah Bumi di Desa Pancur bisa jauh lebih meriah dan tetap menjaga kerukunan antarwarga,” pungkasnya.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang kuat sebagai instrumen pemersatu sosial di tingkat desa, terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Topanda Resmi Jadi Desa Cantik, Tata Kelola Data Diperkuat

PDF đź“„BULUKUMBA – Pemerintah Desa (Pemdes) Topanda, Kecamatan Rilau Ale, resmi dicanangkan sebagai lokasi program …

Posbankum Desa di Kalbar Diperkuat, Akses Hukum Makin Dekat

PDF đź“„PONTIANAK – Akses keadilan bagi masyarakat desa di Kalimantan Barat (Kalbar) diperkuat melalui peningkatan …

Dari Luar Negeri Pulang Bawa Skill, Kini Bangun Usaha

PDF đź“„KEBUMEN – Transformasi purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjadi pelaku usaha mandiri mulai didorong …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *