BOLAANG UKI – Perayaan Paskah Oikumene 2026 yang digelar di kawasan Hunian Tetap (Huntap) Desa Modisi, Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), menjadi ruang refleksi sosial tentang pentingnya persatuan warga di tengah proses adaptasi kehidupan baru masyarakat terdampak relokasi, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Pemkab Bolsel) ini tidak hanya menjadi ibadah keagamaan, tetapi juga momentum penguatan solidaritas antara pemerintah, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan masyarakat Huntap. Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) M Arvan Ohy, tokoh agama, pengurus Sinode Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM), jemaat sekitar, hingga ASN Kristen di lingkungan Pemkab Bolsel.
Ketua Panitia Martinus I Nyoman Suardana menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata penguatan nilai iman sekaligus kepedulian sosial pemerintah terhadap masyarakat. “Maksud dan tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan iman kepada Tuhan serta mempererat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat, guna menghadirkan nilai-nilai kasih sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya sebagaimana diwartakan Tribun Manado, Sabtu, (18/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, ASN juga melakukan aksi berbagi kasih kepada warga Huntap sebagai bagian dari implementasi nilai pelayanan sosial. Perayaan Paskah yang mengusung tema “Kristus Bangkit Membaharui Kemanusiaan Kita” tersebut menekankan pentingnya pembaruan relasi sosial di tengah keberagaman latar belakang masyarakat.
Bupati Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tanpa menyebut gelar akademik maupun kehormatan, menegaskan bahwa Paskah harus dimaknai sebagai momentum pembaruan spiritual dan sosial. “Paskah tahun ini berbicara tentang harapan di tengah luka,” katanya. “Kami memahami proses adaptasi di lingkungan baru bagi masyarakat huntap tidaklah mudah, namun makna Paskah diharapkan mampu menciptakan pembaharuan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam damai,” urainya.
Ia juga menyoroti dinamika sosial di kawasan Huntap yang dihuni warga dengan latar belakang berbeda. Menurutnya, perbedaan yang muncul dalam proses adaptasi merupakan hal wajar sekaligus peluang memperkuat kohesi sosial. “Perbedaan adalah realitas, tetapi juga peluang untuk memperkuat persaudaraan. Di sinilah makna kebangkitan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.
Selain pesan persatuan, pemerintah daerah turut mengingatkan agenda penting nasional berupa Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Mei hingga 31 Agustus 2026. Masyarakat diimbau berpartisipasi aktif guna mendukung data ekonomi yang akurat dan terintegrasi dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Di sisi lain, kegiatan verifikasi seperti Ground Check Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN) dan Ground Check Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga tengah berjalan sebagai penguatan basis data sosial.
Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, pemerintah menekankan bahwa harmoni antarumat beragama di Bolsel menjadi kekuatan sosial tersendiri, terlebih ketika momen Paskah berlangsung beriringan dengan Idulfitri, Lebaran Ketupat, dan Nyepi. Hal ini dinilai sebagai cerminan nyata kehidupan masyarakat yang majemuk namun tetap rukun.
Pemerintah berharap, semangat Paskah di Huntap Desa Modisi dapat menjadi titik tolak penguatan solidaritas warga serta mempercepat proses adaptasi sosial menuju kehidupan yang lebih harmonis dan inklusif di wilayah relokasi tersebut. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara