KABUPATEN MOJOKERTO – Sistem irigasi yang belum optimal di Desa Pandankrajan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi sorotan karena berdampak langsung pada ketimpangan distribusi air dan produktivitas pertanian warga. Kondisi ini memunculkan kebutuhan mendesak akan perencanaan ulang infrastruktur saluran air agar lebih efisien, terutama saat musim kemarau.
Desa Pandankrajan yang berada di wilayah Daerah Irigasi (DI) tersebut memiliki hamparan lahan persawahan sebagai penopang utama ekonomi masyarakat. Namun, hingga kini, distribusi air irigasi masih belum merata. Sebagian petak sawah mendapatkan suplai air yang cukup, sementara lahan lainnya mengalami kekeringan berkepanjangan ketika debit air menurun.
Selain masalah distribusi, saluran irigasi yang masih didominasi konstruksi tanah turut memperburuk kondisi. Air sering hilang akibat rembesan, sementara erosi dan abrasi kerap merusak dinding saluran ketika hujan deras atau debit meningkat. Situasi ini membuat efisiensi penyaluran air semakin rendah dan tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman secara optimal.
Kondisi tersebut berdampak pada 5W+1H: petani di Desa Pandankrajan (siapa), Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto (di mana), mengalami ketimpangan air irigasi sejak lama dan semakin terasa saat kemarau (apa & kapan), akibat sistem saluran yang belum permanen dan kurang optimal (mengapa), sehingga sebagian petani terpaksa menggunakan pompa air dan sumur bor sebagai solusi darurat (bagaimana).
Perwakilan pengkajian teknis dalam kajian yang dilakukan melalui dokumen perencanaan menyebutkan bahwa perbaikan sistem irigasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas produksi pertanian. Dalam salah satu bagian kajian disebutkan, “Kondisi saluran eksisting masih belum mampu menjamin efisiensi distribusi air secara merata ke seluruh area persawahan,” sebagaimana dilansir Kompasiana, Jumat, (17/4/2026).
Dampak dari kondisi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga ekonomi. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk sumber air alternatif, yang dalam jangka panjang mengurangi margin keuntungan pertanian. Ketergantungan pada pompa dan sumur bor juga meningkatkan beban operasional di tingkat rumah tangga petani.
Perencanaan ulang saluran irigasi dinilai menjadi langkah strategis, termasuk penggunaan material yang lebih kuat dan sistem distribusi yang lebih terukur. Dengan perbaikan tersebut, diharapkan aliran air dapat menjangkau seluruh lahan secara adil dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Jika sistem irigasi berhasil ditingkatkan, Desa Pandankrajan berpotensi memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara