TOLIKARA – Konflik antarwarga yang berujung penyerangan aparat kepolisian dan perampasan senjata api di Desa Mairini, Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, berhasil diredam melalui pendekatan humanis, dengan senjata yang sempat dirampas akhirnya dikembalikan oleh warga pada Rabu (15/4/2026).
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (14/4/2026) itu bermula dari suasana duka atas meninggalnya Denius Penggu. Ketegangan muncul akibat perdebatan antar keluarga terkait penyebab kematian, yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antar kelompok warga dari beberapa kampung.
Sekitar pukul 13.40 WIT, situasi semakin memanas saat massa melakukan pelemparan serta penebangan pohon di sekitar lokasi, hingga berujung bentrokan menggunakan batu, senjata tajam, dan panah. Aparat dari Kepolisian Sektor (Polsek) Bokondini yang tiba di lokasi sekitar pukul 13.55 WIT berupaya melerai, namun tidak berhasil.
Dalam kondisi tersebut, petugas sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun, tindakan itu justru memicu reaksi massa yang kemudian menyerang aparat. Seorang anggota, Dominggus Gannaran, terpisah dari rombongan dan mengalami penganiayaan.
Pada saat bersamaan, satu pucuk senjata api jenis revolver milik anggota tersebut dirampas oleh warga bernama Apapu Pagawak. Akibat insiden itu, empat personel mengalami luka-luka, sementara satu warga, Ereki Wunungga (18), dilaporkan meninggal dunia dan masih dalam proses penyelidikan di RSUD Wamena.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kepolisian Resor (Polres) Tolikara segera bergerak cepat dengan mengerahkan 22 personel tambahan ke Distrik Bokondini guna memperkuat pengamanan serta mencegah eskalasi konflik lanjutan.
Upaya pemulihan dilakukan melalui pendekatan dialogis dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemerintah distrik, serta unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam pertemuan tersebut, Kapolres Tolikara mengimbau agar senjata api yang dirampas dapat dikembalikan secara sukarela.
Pendekatan persuasif tersebut membuahkan hasil. Pada Rabu sekitar pukul 11.33 WIT, senjata api beserta enam butir amunisi dikembalikan oleh warga dan diterima langsung oleh Kapolres Tolikara.
Kapolres menyampaikan apresiasi atas peran aktif masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan. Ia menegaskan bahwa penyelesaian konflik melalui komunikasi dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam menjaga ketertiban.
Polres Tolikara juga memastikan akan terus mengedepankan pendekatan humanis serta memperkuat sinergi dengan masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayahnya, sebagaimana diberitakan Humas Polres Tolikara, Rabu, (15/4/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara