BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mengalokasikan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar sekitar Rp500 juta untuk mempercepat penanganan darurat bencana di tujuh titik terdampak yang tersebar di sejumlah desa dan kecamatan.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kerusakan infrastruktur dan ancaman banjir yang terus berulang akibat tingginya intensitas hujan sejak awal 2026. Penanganan difokuskan pada pengendalian aliran air guna mencegah dampak lebih luas ke permukiman warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menyampaikan bahwa anggaran tersebut diprioritaskan untuk pemasangan bronjong di lokasi rawan bencana. “Semua penanganan di tujuh titik itu menggunakan bronjong,” katanya.
Adapun tujuh titik penanganan tersebar di Desa Ampelan Kecamatan Wringin, Desa Klekean Kecamatan Botolinggo, Kecamatan Sukosari, serta empat titik di Desa Wonoboyo Kecamatan Klabang. Pemasangan bronjong dilakukan sebagai langkah awal untuk menahan arus air agar tidak langsung merusak permukiman dan lahan pertanian warga.
Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan lintas perangkat daerah. Selain Dinas BSBK dan BPBD, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) juga dilibatkan untuk membantu warga terdampak, khususnya pada sektor hunian. “Penanganan ini dilakukan lintas sektor agar lebih efektif,” kata Ansori.
Dalam peninjauan lapangan di Desa Wonoboyo Kecamatan Klabang, pemerintah mengidentifikasi empat titik prioritas, termasuk kawasan jembatan Gapura dan aliran Sungai Gunung Putri yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo. Sejumlah titik tersebut mengalami kerusakan cukup parah akibat banjir.
Kerusakan infrastruktur juga berdampak pada mobilitas warga. Jembatan penghubung Desa Leprak dan Desa Wonoboyo yang rusak kini hanya dapat dilalui melalui jalur darurat.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Bondowoso menyiapkan pembangunan jembatan permanen melalui skema Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan estimasi anggaran sekitar Rp500 juta, mengingat proyek tersebut belum masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebelumnya.
Rangkaian bencana di wilayah ini tercatat berulang, termasuk banjir di Desa Wonoboyo pada Februari 2025 dan kembali terjadi pada 8 Maret 2026 yang merusak fasilitas umum serta rumah warga. Selain itu, hujan deras juga menyebabkan kerusakan sejumlah jembatan di beberapa wilayah, termasuk di Desa Klekean Kecamatan Botolinggo dan jalur penghubung Desa Sempol–Bandilan Kecamatan Prajekan.
Upaya percepatan penanganan ini diharapkan mampu mengurangi risiko bencana susulan sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana di Bondowoso. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara