Pengembangan pariwisata Khao Sok di Thailand hingga 2030 diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat lokal, diversifikasi pengalaman wisata, dan perlindungan hutan hujan tropis agar tidak terjebak menjadi destinasi wisata massal.
SURAT THANI DESA NUSANTARAÂ – Pertumbuhan pariwisata di kawasan hutan hujan Khao Sok, Thailand, mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Namun, meningkatnya jumlah akomodasi dan aktivitas wisata juga memunculkan tantangan untuk menjaga kelestarian alam serta mempertahankan karakter kawasan agar tidak berubah menjadi destinasi wisata massal yang kehilangan keunikannya.
Perkembangan tersebut terlihat di Khao Sok Village, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai persinggahan wisatawan backpacker dengan penginapan sederhana. Kini, kawasan tersebut menawarkan pilihan akomodasi lebih beragam, layanan pijat, wisata kendaraan segala medan (all-terrain vehicle/ATV), hingga wahana zipline yang dikelola sejumlah pelaku usaha kecil.
Marius Herrmann, pengembang pariwisata yang terlibat dalam pengelolaan Our Jungle Resorts dan Lost Horizon Resort, menilai perubahan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat wisatawan terhadap pengalaman berwisata berbasis alam.
Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tidak terarah dapat menghilangkan identitas kawasan tersebut.
“The challenge is that Khao Sok Village is starting to look like every other tourist destination.”
Herrmann telah mengamati perkembangan Khao Sok selama sekitar satu dekade. Menurutnya, sektor pariwisata di kawasan tersebut masih memiliki peluang besar untuk berkembang karena sebagian besar usaha masih berskala kecil hingga menengah. Kehadiran investor besar juga belum terlalu dominan, sementara sejumlah pelaku usaha independen menawarkan pengalaman wisata yang relatif serupa.
Karena itu, tantangan utama bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan, melainkan memastikan pengembangan destinasi tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Sebagaimana diwartakan Ttrweekly, Jumat (30/10/2026), pemikiran tersebut turut melatarbelakangi pengembangan Lost Horizon Resort, sebuah penginapan kelas atas yang berada lebih dekat dengan Taman Nasional Khlong Phanom dan jauh dari pusat keramaian Khao Sok Village.
Pengembangan wisata diarahkan ke masyarakat lokal
Konsep Lost Horizon Resort dirancang untuk memberikan pengalaman wisata alam yang lebih terencana bagi keluarga maupun wisatawan independen. Pengembangan lokasi penginapan di luar pusat aktivitas wisata juga diharapkan dapat mendistribusikan kunjungan wisatawan sekaligus memperluas perputaran ekonomi ke wilayah lain.
Menurut Herrmann, Khao Sok memiliki potensi untuk berkembang menjadi destinasi wisata utama, bukan sekadar tempat persinggahan bagi wisatawan yang melakukan perjalanan antara pesisir Laut Andaman dan Teluk Thailand.
Ketersediaan penginapan yang nyaman memang menjadi salah satu daya tarik, tetapi pengalaman wisata yang berkualitas dinilai lebih menentukan keputusan pengunjung untuk memperpanjang masa tinggal.
Meningkatnya ketertarikan terhadap wisata alam juga membuka peluang pengembangan berbagai kegiatan yang lebih beragam. Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk menikmati kawasan tersebut dalam waktu lebih lama.
Potensi serupa juga terdapat di Danau Cheow Lan. Herrmann menilai pengembangan pengalaman wisata yang melibatkan masyarakat di sekitar danau dapat memperluas manfaat ekonomi, sekaligus membantu mengendalikan tekanan terhadap kawasan tersebut.
Hal itu perlu mempertimbangkan kepemilikan lokal dan pembatasan perizinan usaha di kawasan tepi danau agar pengembangan wisata tidak mengabaikan kepentingan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.
Pelestarian alam menjadi fondasi pariwisata
Herrmann menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata berbasis alam sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak menjaga lingkungan yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
“Nature-based tourism is fragile by definition, which makes destination and capacity management absolutely critical.”
Pengalamannya dalam mengembangkan Cardamom Tented Camp dan Anurak Community Lodge turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya pengelolaan destinasi secara berkelanjutan.
Ia menilai hubungan yang erat antara pengelola wisata, otoritas taman nasional, masyarakat, dan pekerja sektor pariwisata merupakan unsur penting untuk menjaga keberlangsungan destinasi.
Masyarakat setempat, menurutnya, tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pelengkap atau latar belakang pengalaman liburan wisatawan. Mereka harus mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dan menikmati manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Prinsip tersebut juga diterapkan di Our Jungle Resorts. Manajer Umum (GM) Luca Forges Davanzati bersama timnya mendorong perekrutan dan pelatihan tenaga kerja lokal, pembukaan peluang pengembangan karier, serta kerja sama dengan pemandu wisata, petani, dan pelaku usaha di sekitar kawasan.
Dampak pendekatan tersebut terlihat dari sejumlah mantan pekerja resor yang kemudian mampu membangun usaha sendiri. Perkembangan itu menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata berpotensi menciptakan peluang ekonomi yang manfaatnya meluas hingga ke luar lingkungan perusahaan.
Upaya mempertahankan tradisi lokal juga dilakukan melalui penggunaan material atap anyaman tradisional yang bersumber dari masyarakat setempat. Penggunaan material tersebut di berbagai akomodasi Our Jungle Resorts turut membantu menjaga keberlangsungan keterampilan kerajinan tradisional.
Koordinasi lintas sektor menentukan masa depan Khao Sok
Memasuki tahap pengembangan berikutnya, Herrmann mengharapkan adanya kerja sama yang lebih terarah antara operator wisata, pengelola taman nasional, pemerintah daerah, dan otoritas pariwisata.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk menentukan persebaran lokasi kunjungan, mengatur waktu kedatangan wisatawan, serta memilih jenis pengalaman wisata yang sesuai dengan karakter dan kemampuan kawasan.
Menurutnya, persoalan terbesar pengembangan Khao Sok bukan terletak pada kurangnya infrastruktur, melainkan belum optimalnya koordinasi antarpemangku kepentingan.
“The biggest barrier isn’t infrastructure; it’s the lack of a shared, coordinated approach,” he said.
Untuk mewujudkan pengembangan hingga 2030, Herrmann membayangkan Khao Sok memiliki pilihan akomodasi yang lebih beragam serta paket wisata edukatif berkualitas tinggi. Kegiatan tersebut idealnya dipandu masyarakat lokal yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai hutan dan ekosistem sekitarnya.
Pendekatan ini dinilai dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengembangan destinasi.
Ia juga mengingatkan agar pertumbuhan pariwisata tidak membawa Khao Sok menuju model destinasi wisata massal yang mengutamakan jumlah kunjungan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.
“What I’d hate to see is Khao Sok continuing down the path to becoming a mass-market destination,” he said.
Pengembangan pariwisata Khao Sok hingga 2030 pada akhirnya menghadirkan dua kepentingan yang harus berjalan beriringan, yakni memperluas peluang ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian hutan hujan tropis yang menjadi daya tarik utamanya. Kolaborasi lintas sektor, keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan kapasitas kunjungan menjadi faktor penting agar pertumbuhan pariwisata tidak mengorbankan kekayaan alam kawasan tersebut. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara