Puluhan desa di Banyumas menghadapi kebutuhan air bersih yang terus meningkat setelah kekeringan meluas hingga 68 desa dan kelurahan di 20 kecamatan.
BANYUMAS – Sebanyak 68 desa dan kelurahan di Kabupaten Banyumas (Banyumas), Jawa Tengah, terdampak kekeringan dengan jumlah warga terdampak mencapai 54.561 jiwa. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah desa menjadi salah satu fokus penanganan pemerintah daerah.
Hingga Sabtu (26/9/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas telah menyalurkan 4.057.000 liter air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Dwi Irawan Sukma mengatakan cakupan wilayah terdampak masih bertambah. “Pada kesempatan hari ini itu [kekeringan] terjadi sudah sampai di titik 68 desa kelurahan, tersebar di 20 kecamatan,” kata Dwi kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (26/9/2026).
Sebagaimana diberitakan TribunJateng, Sabtu, (26/09/2026), Dwi mengatakan penanganan akan terus dilakukan seiring bertambahnya wilayah yang mengalami kekeringan.
Kebutuhan distribusi air bersih juga diperkirakan meningkat setiap hari. Untuk menjaga pelayanan bagi masyarakat desa dan kelurahan yang terdampak, BPBD Banyumas menyiapkan anggaran penanganan krisis air hingga akhir tahun anggaran.
“Untuk anggaran kita persiapkan sampai di akhir tahun anggaran ini insya Allah bisa tercukupi. Walaupun mungkin ada peningkatan-peningkatan setiap hari, insya Allah semuanya nanti kita persiapkan tercukupi sampai dengan Desember,” jelasnya.
Penanganan tersebut diperlukan karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun depan. Hujan diperkirakan mulai turun sekitar Februari, meskipun terdapat kemungkinan hujan turun lebih awal dengan intensitas yang belum terlalu deras.
Pihaknya menyampaikan musim kemarau ini diperkirakan mungkin nanti sampai dengan Januari.
“Karena untuk di titik Februari itu diperkirakan sudah mulai ada hujan. Kalau mungkin di pertengahan ini pun juga ada hujan, tapi enggak sebegitu deras. Ya mungkin enggak terlalu banyak hujan. Habis itu kemarau lagi mungkin sampai dengan di Januari akhir atau mungkin di Februari awal,” lanjutnya.
Selain krisis air, desa-desa di Banyumas juga menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama kondisi kering. BPBD mencatat 40 titik kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 33,768 hektare.
Dwi mengatakan BPBD belum dapat memastikan nilai kerugian akibat karhutla tersebut.
“Kalau jumlah kerugian sementara sih belum sampai kita di titik jumlah kerugian,” ujarnya.
Menurut Dwi, sejumlah titik karhutla yang ditangani terjadi pada area yang terbakar, seperti sampah, daun-daun di wilayah hutan, maupun area pekarangan.
Dengan kekeringan yang masih berpotensi berlangsung hingga awal tahun depan, distribusi air bersih akan terus dilakukan ke desa dan kelurahan yang membutuhkan. Penanganan tersebut diharapkan mampu menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat hingga hujan kembali turun dengan intensitas yang mencukupi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara