32 Hari Pascagempa, Warga Palue Belum Berani Pulang

SIKKA – Lebih dari 3.000 warga di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di pengungsian hingga 32 hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026. Kondisi rumah yang rusak membuat sebagian warga belum berani kembali dan memilih tinggal di posko terpusat maupun tenda keluarga.

Pengungsian warga tersebar dalam dua pola. Sebagian menempati posko yang dipusatkan di sejumlah titik, sedangkan lainnya tinggal di tenda keluarga yang didirikan di sekitar rumah masing-masing.

Camat Palue Rudolfus Riba mengatakan posko pengungsian terpusat masih berada di beberapa lokasi di Desa Rokirole dan Desa Nitunglea.

“Di Rokirole itu ada dua titik, yaitu di lapangan dan di Dusun Koa. Terus, yang di Nitunglea itu juga ada dua titik, di lapangan voli dan di samping Kapela Cua. Itu yang masih terpusat,” kata Rudolfus saat diwawancarai kontributor Tirto, pada Rabu (16/9/2026) pagi di Palue.

Sementara itu, pemerintah telah menyalurkan sekitar 200 tenda keluarga ke delapan desa di Pulau Palue sejak pekan pertama masa tanggap darurat. Tenda tersebut digunakan warga yang memilih tetap berada di sekitar rumah meski bangunan mereka mengalami kerusakan.

“Sehingga, ada pengungsi terpusat, ada pengungsi yang menempati tenda keluarga. Itu sifatnya tersebar ke delapan desa,” ujarnya.

Kondisi tempat pengungsian tidak seragam. Di Desa Kesokoja, khususnya wilayah Natakuni, masih tersedia tenda yang dapat menampung lebih banyak warga dan digunakan anak-anak untuk berkumpul serta beristirahat. Sementara di Desa Lidi, sebagian besar warga hanya menggunakan tenda keluarga berukuran kecil.

“Desa Lidi itu hingga hari ini hanya mereka menempati tenda-tenda keluarga yang ukurannya kecil, hanya untuk menampung keluarga-keluarga yang ada di tenda itu,” kata Rudolfus.

Dari delapan desa di Pulau Palue, empat desa yang berada di kawasan gunung, yakni Desa Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka, menjadi wilayah dengan dampak gempa paling besar. Posisi geografis Palue yang berada di timur laut pusat gempa di Kabupaten Nagekeo membuat guncangan terasa kuat di kawasan tersebut.

“Yang saat ini paling terdampak itu empat desa di gunung,” kata Rudolfus.

“Kalau kita lihat posisi Palue ini kan di sebelah timur laut, berarti di belakang empat desa itu. Sehingga, dampak goncangan (magnitudo) 7,7 kemarin itu terasa sekali di atas,” ujarnya.

Seiring masih berlangsungnya pengungsian, pemerintah melakukan verifikasi dan validasi kerusakan rumah warga. Data awal pemerintah kecamatan mencatat 505 rumah rusak berat, 57 rumah rusak sedang, dan 500 rumah rusak ringan.

Namun, setelah verifikasi faktual oleh tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berdasarkan kriteria yang ditetapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hasil tahap pertama mencatat 123 rumah masuk kategori rusak berat dan 156 rumah rusak sedang. Data rumah rusak ringan masih dihitung, sebagaimana diberitakan Tirto, Kamis, (17/09/2026).

“Rusak sedang itu 156 KK dan sisanya itu saya belum hitung, itu rusak ringan,” kata Rudolfus.

Perbedaan hasil pendataan tersebut masih dapat disanggah warga melalui mekanisme uji publik yang berlangsung pada 16-18 September 2026. Warga yang keberatan terhadap hasil verifikasi dapat menyampaikan sanggahan untuk kemudian dituangkan dalam berita acara.

“Kalau dia keberatan, dituangkan dalam berita acara, bahwa dia tidak terima rumahnya dikatakan rusak sedang,” ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan opsi hunian sementara atau bantuan melalui Dana Siap Pakai (DSP) bagi warga yang rumahnya masuk kategori rusak berat. Rudolfus mengatakan koordinasi dengan tenaga teknis BNPB telah dilakukan terkait rencana pembangunan hunian sementara di Palue.

Kondisi pengungsian terlihat jelas di Desa Rokirole. Sebanyak 96 kepala keluarga (KK) atau sekitar 285 jiwa masih bertahan di Posko Pengungsian Lapangan Guntor, Dusun Cawalo, hingga Rabu (16/9/2026).

Koordinator Posko Utama Desa Rokirole Nikodemus W. Lowo menyebut jumlah warga Desa Rokirole yang masih mengungsi secara keseluruhan mencapai 979 jiwa. Dari jumlah tersebut, 285 jiwa berasal dari 96 KK dan tinggal di posko Lapangan Guntor.

“Kalau untuk Desa Rokirole itu, total jiwa yang mengungsi itu 979. Hanya khusus yang di lapangan ini ada 285,” kata Nikodemus.

Menurut Nikodemus, sebagian besar warga belum kembali karena rumah mereka mengalami kerusakan parah. Sekitar 9-10 KK bahkan masih tinggal di teras rumah karena keterbatasan tenda pengungsian.

“Sebagian besar masih bertahan. Hanya sekitar 9 sampai 10 KK itu mereka bukan masuk rumah, tetapi masih di depan teras. Belum bisa masuk rumah karena tenda kurang,” ujarnya.

Kerusakan bangunan membuat warga khawatir tidur di dalam rumah. Sejumlah rumah mengalami retakan besar dan sebagian lainnya roboh.

“Posisi rumah itu tidak bisa. Retak besar dan sebagian besar roboh, sebagian besar retak besar, sehingga kami tidak berani untuk masuk, apalagi tidur di dalam,” katanya.

Masalah lain muncul pada fasilitas penyimpanan air. Hampir setiap rumah warga disebut memiliki bak penampungan yang retak atau rusak akibat gempa sehingga air tidak lagi dapat tersimpan dengan baik.

“Bak air itu rata-rata setiap rumah rusak. Kalau mau bilang tidak retak juga, airnya hilang,” ujarnya.

Kerusakan fasilitas air tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah daerah. Tim survei juga telah mendatangi rumah warga untuk memeriksa kerusakan bangunan sekaligus kondisi bak penampungan air.

“Sudah lapor, sudah survei. Sudah ada tim survei yang turun untuk lihat rumah, terus lihat bak-bak. Bak-bak juga pecah,” ujarnya.

Salah satu warga yang masih tinggal di pengungsian adalah Mama Dominika Wea, 64 tahun, dari Kampung Cawalo, Desa Rokirole. Rumahnya mengalami kerusakan berat dengan sejumlah tiang struktur patah dan bagian tembok roboh.

Saat gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, dua cucu Mama Dominika yang bersekolah di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Cawalo berada dalam lingkungan rumah tersebut. Anak bungsunya, Alfredo Riki, mahasiswa semester III Jurusan Pertanian Universitas Nusa Nipa (Unipa), juga berada di dalam rumah dan mengalami luka di kepala setelah tertimpa tembok.

Salah satu cucunya juga mengalami luka di kepala. Alfredo kemudian mendapat perawatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tuanggeo dan menerima 17 jahitan.

Setelah rumah rusak, Mama Dominika bersama keluarganya meninggalkan rumah dan tinggal di tenda pengungsian. Pada hari pertama pascagempa, mereka menggunakan tenda darurat berbahan terpal milik sendiri sebelum memperoleh tenda dari BNPB pada pekan kedua.

“Tanggal 15 Agustus kami pakai tenda darurat dari terpal yang kami punya. Tenda BNPB masuk minggu kedua,” tutur Mama Dominika.

Hingga kini, tenda masih menjadi tempat tinggal sementara bagi keluarga Mama Dominika. Bagi warga Palue lainnya, kepastian hasil verifikasi rumah, ketersediaan tenda, air bersih, serta rencana hunian sementara menjadi bagian penting dalam menentukan kapan mereka dapat meninggalkan pengungsian dan kembali menjalani kehidupan di rumah masing-masing. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

PSEL Bogor Raya Target Tekan Emisi 640 Ribu Ton per Tahun

PDF đź“„BOGOR – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa …

Pilkades Ciamis 2026 Gunakan Tablet di TPS

PDF đź“„CIAMIS – Sebanyak 40 desa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tengah mempersiapkan pelaksanaan Pemilihan …

Desa di Banyuwangi Diminta Maksimalkan Potensi untuk Atasi Sampah

PDF đź“„BANYUWANGI – Seluruh desa di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, didorong memperkuat pengelolaan sampah dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *