Kekeringan Meluas, 62 Desa Bojonegoro Kesulitan Air Bersih

BOJONEGORO – Sebanyak 62 desa di 18 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro menghadapi kesulitan air bersih akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro memperbanyak distribusi air sekaligus menyalurkan perlengkapan penampungan kepada masyarakat terdampak.

Hingga Rabu (16/9/2026), penyaluran air bersih telah dilakukan sebanyak 439 kali ke sejumlah desa yang mengalami krisis air. Pemerintah desa juga diminta segera melaporkan kondisi warganya apabila sumber air mulai mengering agar bantuan dapat diberikan lebih cepat.

Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi mengatakan jumlah wilayah terdampak masih berpotensi bertambah. Hal itu berkaitan dengan perkiraan musim kemarau yang masih berlangsung hingga akhir tahun.

“Sebagaimana prediksi BMKG kemarau masih berlangsung hingga Desember nanti, atau Januari, dan dampaknya kemungkinan juga bakal meluas,” kata Heru, sebagaimana diberitakan Surya, Rabu, (16/09/2026).

Berdasarkan analisis dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak kekeringan di wilayah tersebut bahkan berpotensi berlanjut hingga Januari 2027. Karena itu, pemantauan terhadap desa-desa yang mulai mengalami kekurangan air terus dilakukan.

Distribusi air menjadi salah satu langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama sumber air di sejumlah wilayah mengalami penurunan akibat kemarau panjang.

“Hingga saat ini, dropping air bersih telah dilakukan sebanyak 439 kali ke berbagai desa yang mengalami krisis air,” ujar Heru.

Selain mengirimkan air bersih, BPBD Bojonegoro memberikan perlengkapan yang dapat digunakan masyarakat untuk menampung air. Bantuan tersebut telah disalurkan kepada 38 desa terdampak.

Peralatan yang diberikan terdiri atas 38 toren berkapasitas 1.200 liter, dua toren berkapasitas 5.300 liter, 187 terpal, 66 gentong, 486 jeriken, dan 414 gayung.

“Bantuan tersebut meliputi 38 toren berkapasitas 1.200 liter, dua toren berkapasitas 5.300 liter, 187 terpal, 66 gentong, 486 jeriken, serta 414 gayung,” kata Heru.

Perlengkapan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menyimpan air yang didistribusikan maupun memanfaatkan sumber air yang masih tersedia di wilayah masing-masing. Dengan demikian, penanganan tidak hanya bergantung pada pengiriman air ketika kebutuhan warga meningkat.

BPBD Bojonegoro juga mendorong pemerintah desa untuk aktif memantau kondisi sumber air dan tidak menunda pelaporan ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat di wilayah terdampak turut diimbau menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaian. Langkah tersebut diperlukan mengingat periode kemarau diperkirakan masih berlangsung beberapa bulan ke depan dan wilayah yang membutuhkan bantuan berpotensi bertambah.

Penanganan krisis air bersih akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan. Pemantauan dan pelaporan dari desa menjadi bagian penting agar distribusi bantuan dapat segera diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Skema Kopdes Diperjelas, Agrinas Hanya Dua Tahun

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah memperjelas skema pengelolaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) dengan menegaskan aset …

Tapin Punya 63 Desa Maju dan 63 Desa Mandiri

PDF 📄RANTAU – Pemerintah Kabupaten Tapin menjadikan hasil Indeks Desa 2026 sebagai dasar untuk memetakan …

1.269 Kampung Nelayan Dibangun 2026, Anggaran Capai Rp10 Triliun

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp10 triliun untuk pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *