LOMBOK TENGAH – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan masyarakat mulai mendorong restorasi Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kebakaran menghanguskan sekitar 120 bangunan dan berdampak terhadap 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa. Pemulihan diarahkan tidak sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga mempertahankan identitas budaya Sasak dan keberlanjutan pariwisata desa.
Upaya tersebut mengemuka setelah Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) Zita Anjani bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) meninjau kawasan terdampak pada Minggu (23/8/2026). Pemerintah berencana menindaklanjuti kebutuhan pembangunan kembali kawasan bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
Zita mengatakan pemulihan Desa Adat Sade akan dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak. Menurut dia, aspirasi warga yang dihimpun langsung di lokasi akan menjadi bahan untuk menyusun langkah pemulihan.
“Apa yang kami lihat dan dengar langsung dari masyarakat akan kami sampaikan kepada pemerintah pusat. Melalui Kemendes-PDT, kita akan mendorong program desa wisata dan desa budaya untuk mendukung pembangunan kembali dan restorasi Desa Adat Sade agar dapat kembali berkembang,” ujar Zita melalui keterangannya yang diterima di Mataram, Senin, sebagaimana diberitakan Antara, Senin, (24/08/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Zita didampingi Bupati Lombok Tengah, Bupati Bima, Kepala Desa Sade, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Adat Sade, Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Dirjen PDP), Kepala Biro Perencanaan Kemendes PDT, serta perwakilan Perusahaan Umum (Perum) Bulog NTB.
Selain melihat kawasan yang terdampak, Zita berdialog dengan masyarakat untuk mengetahui kondisi serta aspirasi mereka mengenai proses pemulihan dan masa depan Sade. Bantuan kebutuhan dasar berupa beras, minyak goreng, sarung, dan selimut juga disalurkan melalui kolaborasi dengan Bulog NTB.
Restorasi nantinya akan diarahkan untuk mengembalikan fungsi Sade sebagai tempat tinggal masyarakat sekaligus kawasan budaya dan pariwisata. Pemerintah menilai proses tersebut perlu mempertahankan karakter desa adat dan melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam pemulihan.
“Restorasi akan memperhatikan karakter desa adat, arsitektur tradisional, nilai budaya Sasak, aspek keselamatan, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat,” ujar Zita.
Ia menegaskan pembangunan kembali tidak dapat dilakukan secara instan. Perencanaan diperlukan agar proses pemulihan tidak menghilangkan identitas budaya yang selama ini menjadi kekuatan Desa Adat Sade.
“Restorasi Sade membutuhkan waktu dan harus dilakukan dengan perencanaan yang baik. Kita ingin membangun kembali Sade sebagai desa adat yang tetap hidup, budayanya terjaga, masyarakatnya berdaya, dan pariwisatanya dapat berkembang secara berkelanjutan,” katanya.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam rencana tersebut. Warga Sade dipandang memiliki peran utama dalam menjaga adat dan budaya sekaligus menentukan keberlanjutan kawasan sebagai destinasi wisata.
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu (22/8) malam itu tidak hanya merusak tempat tinggal warga, tetapi juga berdampak pada sejumlah ruang yang menunjang aktivitas budaya dan ekonomi masyarakat. Karena itu, pemulihan diharapkan dapat sekaligus memperkuat kembali kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Pembangunan kembali Sade juga diarahkan menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya Sasak sekaligus memulihkan aktivitas pariwisata. Pemerintah berharap kawasan tersebut dapat kembali menjadi ruang hidup masyarakat yang tetap mempertahankan adat, budaya, dan potensi ekonominya.
“Semoga masyarakat Sade diberikan kekuatan dan ketabahan. Kita ingin Sade kembali menjadi rumah bagi masyarakatnya, budaya Sasak tetap hidup, dan Sade kembali menjadi destinasi pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tandas Zita. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara