LOMBOK – Warga Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), membangun kemandirian energi dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai bahan baku biogas. Upaya yang dikerjakan secara gotong royong itu kini telah menjangkau sembilan dusun dan membantu kebutuhan rumah tangga hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemanfaatan biogas menjadi alternatif warga menghadapi ketidakpastian pasokan elpiji bersubsidi. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, energi tersebut juga membantu pelaku UMKM yang mengolah nira dan gula aren mengurangi penggunaan kayu bakar.
Ketua Sekolah Rakyat (Sekra) Tetebatu Selatan, Yuldi Astuti, mengatakan penggunaan biogas telah menjadi bagian dari aktivitas warga. Sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat, (14/08/2026), warga tidak hanya menggunakan energi tersebut untuk kebutuhan memasak, tetapi juga mengembangkannya melalui partisipasi masyarakat.
“Iya, warga di desa kami sudah gunakan biogas,” kata Tuti akrab disapa.
Menurut Tuti, pembangunan instalasi biogas dilakukan melalui keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi faktor penting agar fasilitas yang dibangun dapat terus digunakan.
“Kunci keberhasilan biogas di desa kami adalah partisipasi masyarakat dari awal perencanaan hingga pengelolaan,” kisah Tuti.
Sumber energi itu relatif mudah diperoleh karena limbah kotoran sapi tersedia dari peternakan milik warga. Satu ember limbah kotoran sapi disebut dapat menghasilkan energi untuk memasak hingga dua jam.
“Dari energi satu ember limbah kotoran sapi itu, sudah bisa memasak sampai dua jam,” ujar Tuti.
Program kemandirian energi tersebut mulai dikembangkan sejak Januari 2025 dengan dukungan dana desa. Pemerintah desa bersama warga kemudian memperluas kerja sama dengan Gema Alam, Biro Karbon Nusantara (BKN) di bawah naungan Yayasan Rumah Energi, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Warga turut menanggung sebagian kebutuhan pembangunan dengan membeli bahan dan mengerjakan pembuatan lubang penampungan fermentasi secara mandiri. Mitra kemudian membantu penyediaan sejumlah perlengkapan pendukung.
“Warga membeli bahan sendiri. Gali lubang penampung fermentasi dengan tenaga sendiri,” ucapnya.
“Kami beli bahan sendiri. Bantuan aksesoris biogas dan alatnya ada dari NGO dan Dinas ESDM,” jelas Tuti.
Hingga kini, instalasi biogas telah tersebar di sembilan dusun. Dusun Lekong Pituk memiliki enam unit berkapasitas besar untuk kebutuhan UMKM yang bersumber dari dana desa. Dusun Keselet Aren memiliki tujuh unit skala rumah tangga dan satu unit untuk UMKM, ditambah enam unit bantuan ESDM.
Sementara itu, Dusun Penyonggok memiliki dua unit skala rumah tangga dan Dusun Otak Bangket memiliki satu unit skala rumah tangga.
Pengembangan di Dusun Keselet Aren diarahkan untuk menjadi contoh kawasan mandiri energi. Warga dan pemerintah desa berharap pemanfaatan biogas dapat terus diperluas sehingga kebutuhan energi masyarakat semakin banyak dipenuhi dari sumber yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Iya, alhamdulillah perlahan mulai terwujud dusun mandiri energi,” ujarnya penuh keyakinan.
Bagi pelaku UMKM pengolah nira dan gula aren, penggunaan biogas memberikan manfaat ekonomi karena mengurangi kebutuhan kayu bakar yang semakin sulit diperoleh. Energi tersebut digunakan untuk proses perebusan dan pengolahan gula aren yang membutuhkan waktu cukup lama.
Di sisi lain, pengembangan biogas masih menghadapi tantangan berupa perubahan kebiasaan masyarakat. Sebagian warga menilai penggunaan elpiji lebih praktis, sementara pengalaman terhadap instalasi lama yang pernah tidak terawat turut memunculkan keraguan.
“Ada yang menolak karena berpikir: ‘Ah, lebih enak pakai gas elpiji, tinggal beli’ Mereka belum berpikir bahwa gas itu akan langka dan suatu saat habis,” katanya.
Untuk memperkuat pemanfaatan energi sekaligus perekonomian warga, anggota Sekra juga melakukan pendampingan pemasaran produk gula aren dan mencari dukungan pendanaan. Upaya tersebut salah satunya menghasilkan bantuan pemberdayaan UMKM dari Bank Dinar untuk pengadaan peralatan produksi gula aren.
Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI), gerakan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan secara mandiri.
“Kami ingin membuktikan bahwa dari desa, dengan gotong royong, kami bisa mandiri energi. Kami ingin terus menyala dari pinggiran, dan ikut menyalakan Indonesia,” tegas Tuti.
Manajer Proyek We for JET NTB, Muhammad Junaini, mengatakan pengembangan sistem biogas tetap didorong sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian energi desa, meskipun terdapat pemotongan dana desa pada 2026.
“Meskipun ada pemotongan dana desa tahun 2026, tujuan kami tetap konsisten, advokasi sistem energi desa yang mandiri dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” kata Muhammad Junaini, Jumat (14/8/2026).[]
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara