NUSA TENGGARA TIMUR – Upaya menjaga komodo Riung atau mbou mulai dipadukan dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui Festival Komodo Riung 2026. Festival perdana yang digelar di Pantai Watu Lajar, Desa Lengkosambi Utara, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Selasa (11/8/2026), menghadirkan budaya lokal, produk masyarakat, serta kampanye pelestarian kawasan konservasi.
Pembukaan festival ditandai dengan pertunjukan Tari Larik, tarian khas masyarakat Riung yang menggambarkan keberanian dan ketangkasan seorang pria. Kehadiran mbou juga menjadi bagian penting dalam kegiatan yang dirancang untuk memperkenalkan potensi wisata sekaligus membangun kesadaran terhadap perlindungan satwa endemik tersebut.
Festival itu dibuka Bupati Ngada Raymundus Bena. Kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Andi Nurul Hadi, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Ngada Gede Harimbawa, Komandan Distrik Militer (Dandim) 1625 Ngada Imam Subekti, perwakilan INFLORES, Forum Konservasi Mbou Ngada, pimpinan organisasi perangkat daerah, Camat Riung, kepala desa, serta masyarakat.
Pelaksanaan festival merupakan kerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, dengan dukungan INFLORES GeF UNDP. Kegiatan dikoordinasikan Forum Konservasi Mbou Riung bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada.
Ketua Panitia Festival Komodo Riung Nicolaus Noywuli mengatakan festival tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa konservasi dapat berjalan bersama dengan pengembangan ekonomi lokal. Sebagaimana diberitakan TribunFlores, Rabu, (12/08/2026), kegiatan tersebut turut menyediakan ruang pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelompok tani hutan.
“Festival ini untuk memperkenalkan konsep konservasi, memasarkan produk UMKM dan kelompok tani hutan, hingga kekayaan budaya Riung yang harus kita angkat ke dalam ekosistem pariwisata,” terang Nicolaus dalam sambutannya.
Sejumlah stan dalam festival menampilkan makanan khas Riung, tenunan tradisional, dan produk pertanian. Kehadiran produk tersebut memperlihatkan potensi masyarakat sekitar yang dapat dikembangkan bersamaan dengan aktivitas pariwisata.
Nicolaus menilai penyelenggaraan perdana Festival Komodo Riung menjadi momentum untuk memperkenalkan mbou sebagai spesies endemik yang memiliki nilai penting bagi kawasan Riung. Menurutnya, keberadaan satwa tersebut harus dijaga dan dilestarikan bersama agar pengembangan wisata tidak mengorbankan kelestarian alam.
Kepala KSDA NTT Andi Nurul Hadi mengatakan festival tidak semata-mata ditujukan untuk promosi wisata alam, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati di wilayah NTT.
“Festival ini selain konservasi, juga sebagai momen kebersamaan dan kekeluargaan kita sehingga kita bisa sama-sama menjaga alam kita,” ungkap Andi.
Ia berharap kegiatan tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi sekaligus mendorong pemanfaatan potensi alam secara berkelanjutan.
“Mudah-mudahan dengan acara ini meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengembangkan apa yang bisa dimanfaatkan dari kawasan konservasi dan sumber daya alam yang ada,” katanya.
Andi menambahkan, kawasan 17 Pulau Riung tidak hanya memiliki panorama alam, tetapi juga kekayaan bawah laut berupa terumbu karang dan beragam hayati lainnya. Potensi tersebut dinilai perlu dipertahankan agar manfaat ekologis sekaligus ekonominya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Festival Komodo Riung 2026 dengan demikian menempatkan konservasi sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata, bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Keterlibatan masyarakat, UMKM, kelompok tani hutan, dan pelaku budaya diharapkan memperkuat model pariwisata yang tetap menjaga alam sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara