Rebo Wekasan Desa Suci Jadi Penggerak Ekonomi Warga

GRESIK – Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga membuka ruang usaha bagi masyarakat. Pelaksanaan pada Senin, 10 Agustus 2026, diwarnai kirab 25 tumpeng dari 25 rukun warga (RW) dan meningkatnya aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sepanjang kawasan kegiatan.

Kirab berlangsung dari Pendopo Balai Desa Suci menuju Masjid Mamba’ut Tho’at dengan jarak sekitar satu kilometer. Setiap RW menyiapkan tumpeng dengan ukuran yang beragam, mulai dari ukuran kecil hingga berukuran besar, untuk diarak dalam rangkaian tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Kegiatan tahun ini sekaligus menjadi momentum penting karena Rebo Wekasan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Penyerahan sertifikat WBTB dilakukan dalam rangkaian kegiatan tersebut dan menjadi penanda pengakuan terhadap tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Desa Suci.

Camat Manyar Hendriawan Susilo mengatakan penetapan tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

“Semoga penghargaan ini bisa membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga Suci,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).

Sekretaris Desa (Sekdes) Suci Muhammad Miftach menyebut pengakuan WBTB menjadi dorongan bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi sekaligus mengembangkannya.

“Yang berbeda tahun ini, Rebo Wekasan sudah ditetapkan sebagai WBTB pada 15 Desember. Penetapannya berupa sertifikat dari Kementerian Kebudayaan RI sebagai warisan budaya tak benda,” ungkapnya.

Dampak ekonomi mulai terlihat dari meningkatnya keterlibatan pelaku UMKM selama kegiatan. Miftach mengatakan masyarakat lokal semakin banyak memanfaatkan keramaian Rebo Wekasan untuk membuka usaha, sementara pelaku usaha dari luar desa juga diberikan ruang untuk berjualan.

“Kami berharap melalui kegiatan Rebo Wekasan ini ada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Alhamdulillah, UMKM lokal semakin banyak yang menyewa stand. Jadi yang berjualan sudah banyak dari masyarakat lokal. Untuk dari luar juga kami menyediakan sekitar 500 stand,” imbuhnya.

Sebagaimana diberitakan Surya, Selasa, (11/08/2026), penyelenggaraan Rebo Wekasan di Desa Suci tahun ini mempertemukan kepentingan pelestarian tradisi dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Ratusan tempat berjualan yang tersedia membuat keramaian budaya tersebut sekaligus menjadi peluang bagi warga untuk memperoleh penghasilan.

Selain aspek ekonomi, keterlibatan 25 RW dalam kirab menunjukkan peran masyarakat desa dalam mempertahankan tradisi. Kepala Desa (Kades) Suci Rizal menjadi pihak yang menerima penyerahan sertifikat WBTB secara simbolis dalam rangkaian kegiatan.

Dengan tetap melibatkan warga sebagai pelaku utama, Rebo Wekasan di Desa Suci berpotensi berkembang sebagai kegiatan budaya yang tidak hanya menjaga warisan lokal, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pelestarian tradisi dan penguatan usaha warga diharapkan dapat berjalan beriringan pada pelaksanaan berikutnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Saentis Punya Fasilitas Baru untuk Olahraga, Keluarga, dan Usaha

PDF 📄DELI SERDANG – Alun-Alun Kecamatan Percut Sei Tuan di Desa Saentis kini menjadi ruang …

Bantuan Pusat Masuk 115 Lokasi, Petani Demak Dibantu Hadapi Kekeringan

PDF 📄DEM​​AK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak memperkuat ketahanan sektor pertanian melalui pembangunan dan perbaikan …

Akta Kelahiran Digital Dipercepat, Desa Jadi Mata Rantai Penting

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah Desa (Pemdes) akan mendapat peran lebih besar dalam memperbarui data kependudukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *