TANAH LAUT – Keterbatasan dan ketidakmerataan sumur bor membuat warga Desa Tanjung, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), kesulitan memperoleh air bersih. Pemerintah desa menilai penambahan fasilitas air harus disertai pemetaan kebutuhan agar pembangunan tidak terkonsentrasi di lokasi yang sudah memiliki sumber air.
Kesulitan paling terasa di Dusun 3 yang dihuni sekitar 600 jiwa. Di wilayah tersebut hanya tersedia satu titik sumur bor yang berada di lingkungan masjid. Sebagian warga memilih tidak mengambil air dari lokasi itu karena khawatir penggunaan air dalam jumlah besar berdampak pada konsumsi listrik masjid.
Kepala Desa (Kades) Tanjung Sukandar mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air dari dusun lain. Salah satu sumber alternatif berada di Dusun 4 yang jaraknya cukup jauh.
“Di Dusun 3 itu ada satu titik sumur bor, lokasinya di lingkungan masjid. Itu dulu dari anggota dewan,” ujar Sukandar, Selasa (11/8/2026).
Untuk mengoperasikan sumur bor di lokasi lain, warga juga harus bergotong royong melalui iuran guna memenuhi kebutuhan listrik. Kondisi kekurangan air tersebut menurut Sukandar telah berlangsung sekitar setengah bulan terakhir dan mulai dirasakan pula warga Dusun 5 serta Dusun 4.
Berbeda dengan wilayah tersebut, Dusun 6 relatif masih aman. Wilayah yang berada di ujung desa dan dekat kawasan pegunungan itu justru memiliki sumber air yang dinilai masih baik.
“Di Dusun 6 masih aman. Ternyata daerah yang berbatu itu airnya masih bagus,” kata Sukandar.
Sebagaimana diberitakan Banjarmasin Post, Selasa, (11/08/2026), rata-rata setiap dusun di Desa Tanjung saat ini memiliki sekitar dua titik sumur bor. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan warga karena idealnya setiap dusun memiliki sekitar lima unit.
Persoalan semakin kompleks karena pembangunan fasilitas baru belum selalu mengikuti lokasi dengan tingkat kebutuhan tertinggi. Sepanjang 2026, telah ada pembangunan sumur bor melalui paket kegiatan dari wakil rakyat, tetapi lokasinya disebut berdekatan dengan sumur yang telah tersedia.
Kondisi itu mendorong pemerintah desa meminta agar pembangunan sarana air bersih ke depan melibatkan desa sejak tahap perencanaan, terutama untuk menentukan lokasi berdasarkan tingkat kebutuhan warga.
“Ke depan kami berharap kegiatan seperti ini bisa dikoordinasikan dengan pemerintah desa. Perlu dibuat desain atau pemetaan terlebih dahulu, sehingga penempatannya lebih tepat, terutama di lokasi yang memang masih sangat kekurangan sumur bor,” tuturnya.
Bagi masyarakat Desa Tanjung, persoalan air bersih bukan hanya menyangkut jumlah sumur bor. Jarak menuju sumber air, kemampuan warga mengangkut air, serta biaya listrik untuk mengoperasikan pompa turut menentukan kemudahan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerataan fasilitas dan perencanaan berbasis kebutuhan menjadi langkah penting agar warga di dusun yang mengalami keterbatasan tidak terus bergantung pada sumber air dari wilayah lain. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara