BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menargetkan penerapan sistem pertanian modern mampu menggandakan produktivitas padi dari rata-rata sekitar lima ton menjadi hingga 10 ton per hektare. Uji coba teknologi tersebut dimulai di Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu, melalui program Pertanian Modern-Sistem Pertanian Lanjutan (PM-AAS) dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela).
Program itu diterapkan pada lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I sebagai lahan percontohan untuk menguji efektivitas pola budidaya yang lebih terukur dibandingkan metode konvensional, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu, (09/08/2026).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi (Distan Bekasi) Abdillah Majid mengatakan penerapan PM-AAS menjadi bagian dari upaya memperkenalkan modernisasi pertanian kepada petani sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.
“Untuk uji coba sekaligus percontohan, sistem ini mulai diterapkan pada lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu sebagai tahap awal modernisasi budidaya padi,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdillah Majid di Cikarang, Minggu.
Dalam penerapannya, petani tidak hanya diarahkan menggunakan benih dengan pola tanam berbeda, tetapi juga mengikuti tahapan pengelolaan lahan berdasarkan kondisi tanah. Penyuluh pertanian bersama kelompok tani melakukan pemeriksaan tingkat keasaman tanah, menentukan kebutuhan kapur dolomit, mengatur pemupukan, serta melakukan pengendalian gulma.
Untuk tahap awal, varietas padi Inpari 33 digunakan sebanyak sekitar 15 kilogram benih pada lahan percontohan tersebut. Hasil panen ditargetkan sedikitnya mencapai empat ton gabah dari lahan seluas 4.000 meter persegi.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu Ubuh Buhori menjelaskan hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat keasaman tanah berada pada pH 5,5. Kondisi tersebut kemudian ditangani dengan pemberian kapur dolomit sebanyak 500-1.000 kilogram per hektare.
“Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Selain itu, sehari sebelum penanaman dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma,” katanya.
Pengelolaan air juga menjadi bagian penting dalam metode baru tersebut. Setelah benih ditanam, lahan tidak langsung digenangi selama lima hari pertama untuk mencegah benih membusuk dan mengurangi risiko serangan penyakit.
“Selanjutnya dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, kemudian pemupukan pertama diberikan pada umur sekitar 10 hari sesuai rekomendasi teknis,” katanya.
Menurut Ubuh, penerapan PM-AAS memang membutuhkan pupuk lebih banyak dibandingkan pola konvensional karena jarak tanam yang lebih rapat. Namun, penggunaan teknologi dan pengelolaan budidaya secara terukur diharapkan dapat memberikan hasil produksi yang lebih tinggi.
Lahan di Bojongmangu sekaligus disiapkan sebagai lahan demonstrasi agar petani dapat melihat secara langsung perbedaan hasil dan proses budidaya antara pola tradisional dengan sistem pertanian modern.
“Harapannya setiap desa nanti memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern,” ucapnya.
Ketua Kelompok Tani Warudoyong I Yusup Saepuloh menilai uji coba tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperluas penerapan teknologi pertanian kepada anggota kelompok tani.
“Kami berharap hasil uji coba ini bisa menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani. Melalui penerapan teknologi, semoga hasil panen meningkat signifikan,” kata dia.
Jika target produktivitas hingga 10 ton per hektare dapat tercapai, pola budidaya yang diuji di Desa Sukabungah berpotensi menjadi model pengembangan pertanian modern di desa-desa lain di Bekasi. Pemerintah daerah berharap keberhasilan lahan percontohan tersebut dapat mendorong semakin banyak petani beralih dari pola konvensional menuju budidaya yang lebih terukur dan produktif. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara