Wae Rebo Resmi Dibuka, Pengunjung Diminta Datang Sebelum Batas Waktu Pendakian

MANGGARAI – Aktivitas wisata di Kampung Adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dibuka sejak 1 Agustus 2026 setelah sempat dihentikan sementara akibat cuaca buruk pada akhir Juli. Pengelola menetapkan sejumlah ketentuan bagi wisatawan, mulai dari batas waktu pendakian, kewajiban registrasi, hingga aturan berpakaian, guna menjaga keselamatan pengunjung sekaligus menghormati adat masyarakat setempat.

Direktur Lembaga Pelestari Wae Rebo, Benjamin Semandu, mengatakan wisatawan yang ingin bermalam di Kampung Adat Wae Rebo wajib memulai pendakian sebelum pukul 16.00 Wita. Adapun pengunjung yang hanya melakukan perjalanan sehari diminta memulai pendakian paling lambat pukul 12.00 Wita.

Menurut Benjamin, pembatasan waktu tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko perjalanan saat kondisi mulai gelap serta meningkatkan keamanan selama aktivitas trekking menuju kampung adat. Informasi tersebut sebagaimana diberitakan Flores Editorial, Selasa (04/08/2026).

Selain mematuhi jadwal pendakian, wisatawan diwajibkan mengenakan pakaian yang sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya masyarakat Wae Rebo. Pengunjung juga diimbau membawa uang tunai karena kawasan tersebut belum memiliki fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM) maupun sistem pembayaran non-tunai.

Seluruh wisatawan wajib melakukan registrasi dan menyelesaikan pembayaran di Tourism Information Center (TIC) Wae Rebo yang berada di Desa Kombo sebelum memulai perjalanan menuju kampung adat.

Untuk paket menginap, biaya ditetapkan mulai Rp325 ribu per orang per malam. Fasilitas yang diperoleh meliputi akomodasi di rumah adat Mbaru Niang, makan malam, sarapan, kopi atau teh, serta kasur dan selimut.

Sementara itu, paket kunjungan sehari dikenakan tarif mulai Rp200 ribu per orang yang sudah mencakup makan siang serta kopi atau teh selama berada di Wae Rebo. Wisatawan juga dapat memberikan sumbangan adat atau Wae Lu’u secara sukarela kepada tetua adat saat prosesi penyambutan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat. Dengan kembali dibukanya destinasi tersebut, pengelola berharap seluruh pengunjung mematuhi aturan yang berlaku agar pelestarian budaya dan aktivitas pariwisata dapat berjalan berkelanjutan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dari Desa Sebulu Ulu, Kasus Dugaan Keracunan MBG Masuk Tahap Pemeriksaan

PDF 📄KUTAI KARTANEGARA – Puluhan siswa di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, …

Energi Alternatif dari Sampah Menanti Kepastian Hukum di Kendal

PDF 📄KENDAL – Inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif bernama Petasol di Desa Margorejo, …

Potensi Desa Digarap Serius, Lahan BUMDes Limau Manis Hasilkan Panen Jagung

PDF 📄INDRAGIRI HILIR – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mianggul Gemilang Desa Limau Manis, Kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *