Aci Sang Hyang Grodog Jadi Penjaga Identitas Budaya Pulau Lembongan

KLUNGKUNG – Masyarakat Desa Adat Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, terus menjaga keberlangsungan tradisi Aci Sang Hyang Grodog sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai spiritual dan budaya. Ritual yang digelar setiap dua tahun sekali itu menjadi simbol permohonan keselamatan sekaligus upaya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Pelaksanaan Aci Sang Hyang Grodog berlangsung selama sekitar 11 hingga 12 hari dengan berbagai rangkaian upacara. Prosesi penutup melalui Mapeed Pengeluar (Ngelebar) digelar pada Sabtu (1/8/2026), setelah rangkaian kegiatan dimulai sejak 17 Juli 2026 melalui prosesi Matur Piuning.

Di tengah perkembangan sektor pariwisata di Pulau Lembongan, masyarakat adat tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi warga setempat, ritual ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keharmonisan antara manusia, lingkungan, dan nilai adat.

Sebagaimana diberitakan Tribun Bali, Senin (03/08/2026), keberadaan Aci Sang Hyang Grodog telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2024. Status tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Bupati Klungkung I Made Satria mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Adat Lembongan dalam mempertahankan warisan budaya leluhur. Menurutnya, pengakuan sebagai WBTB bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga tanggung jawab agar tradisi tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tradisi Sang Hyang Grodog sekarang tidak hanya kebanggaan masyarakat Lembongan, tetapi juga kekayaan budaya Kabupaten Klungkung bahkan Indonesia. Saya berharap generasi muda tidak sekadar menyaksikan, tetapi ikut belajar, memahami makna ritualnya, dan menjadi penerus yang menjaga kelestariannya,” ujar Satria.

Ketua Panitia Aci Sang Hyang Grodog, I Wayan Pijer menjelaskan, ritual tersebut menjadi bentuk permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai mara bahaya, wabah penyakit (sasih grubug), serta terciptanya keseimbangan antara manusia dan alam.

Selama rangkaian upacara berlangsung, masyarakat menampilkan sejumlah tarian sakral Sang Hyang, di antaranya Sang Hyang Sampat, Sang Hyang Lingga, Sang Hyang Joged Bumbung, Sang Hyang Dukuh Ngabe Cicing-Jaran, Sang Hyang Dukuh Ngabe Bubu, Sang Hyang Enjo-enjo, Sang Hyang Tiling-tiling, hingga Sang Hyang Sumbul.

Pelestarian tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Adat Lembongan mampu menjaga nilai budaya lokal di tengah perubahan zaman dan perkembangan pariwisata. Keberadaan ritual ini juga menjadi daya tarik budaya yang memperkuat identitas Pulau Lembongan sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan adat Bali.

“Tradisi ini juga menunjukan bagaimana masyrakat Lembongan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai adat yang menjadi identitas Pulau Lembongan,” ungkapnya.

Ke depan, masyarakat berharap generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah agar Aci Sang Hyang Grodog tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan nilai leluhur Bali. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tapin Punya 63 Desa Maju dan 63 Desa Mandiri

PDF 📄RANTAU – Pemerintah Kabupaten Tapin menjadikan hasil Indeks Desa 2026 sebagai dasar untuk memetakan …

Desa Denanyar Dorong Ekonomi Warga Lewat Gelar Potensi

PDF 📄JOMBANG – Kreativitas warga menjadi bagian penting dalam penutupan Gelar Potensi Desa Denanyar 2026 …

Kamboja Ungkap Temuan Zat Kimia, Thailand Sebelumnya Membantah

PDF 📄PHNOM PENH – Pengaduan Kamboja kepada Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) membuka kembali sorotan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *