KUBU RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) terus meluas. Api tidak hanya menghanguskan lahan gambut, tetapi juga mengancam permukiman warga, Tempat Pemakaman Umum (TPU), hingga menyebabkan dua rumah kosong terbakar di Kabupaten Kayong Utara. Pemerintah bersama aparat gabungan kini memperkuat upaya pemadaman dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
Karhutla di Kabupaten Kubu Raya terjadi di beberapa titik, di antaranya kawasan Sungai Ambawang dan Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Di Sungai Ambawang, kobaran api membakar sekitar satu hektare lahan semak dan menjalar hingga mendekati TPU serta kawasan permukiman.
Kondisi tersebut diperparah oleh kemarau yang menyebabkan saluran air mengering sehingga menyulitkan proses pemadaman.
“Kami tidak akan pandang bulu dalam melakukan penyelidikan dan menindak tegas siapa pun pelaku di balik pembakaran hutan dan lahan ini. Proses hukum dipastikan berjalan transparan dan tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Ade, sebagaimana diberitakan Tribun Pontianak, Kamis (23/07/2026).
Sementara itu, kebakaran di Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, telah berlangsung selama dua hari dan dinilai sebagai salah satu yang paling sulit ditangani karena membakar lahan gambut dengan vegetasi cukup lebat.
Kepala Regu (Danru) Tim Satuan Tugas (Satgas) Darat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Edy Susanto mengatakan proses pemadaman masih berlangsung dengan dukungan tambahan lima tim dari BPBD Provinsi.
“Kebakaran ini termasuk yang parah. Cukup sulit dipadamkan karena di lokasi didominasi tanah gambut dan ada vegetasi pohon yang sedikit lebat, berbeda dengan tempat lain,” ungkap Edy.
“Dari Provinsi kita turunkan 5 tim untuk membantu proses pemadaman dari BPBD Kubu Raya, dan ada juga dibantu oleh damkar swasta lainnya,” paparnya.
Polisi juga telah memasang garis polisi di lokasi bekas kebakaran seluas dua hektare di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, guna mengumpulkan barang bukti dan menyelidiki dugaan unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut.
Di Kabupaten Kayong Utara, dampak karhutla semakin meluas setelah api membakar dua rumah kosong di kawasan Transmigrasi Semanai, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, petugas masih berupaya mencegah api merambat ke permukiman lainnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kayong Utara Fathul Bahri menyebut sebagian besar wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman dua hingga empat meter sehingga api sulit dipadamkan.
“Rumah yang terbakar ada dua unit dan kondisinya memang sudah ditinggalkan oleh penghuninya,” ujar Fathul Bahri saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
“Kendala utama di lapangan adalah sekitar 89 persen lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan ketebalan mencapai dua hingga empat meter. Hal ini membuat api terkunci di bawah permukaan tanah dan sangat sulit untuk dipadamkan secara total,” tambah Fathul.
Secara akumulatif, BPBD Kayong Utara mencatat luas lahan yang terbakar sejak 9 hingga 21 Juli 2026 mencapai sekitar 520 hektare. Penanganan dipusatkan di Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir, dan Pulau Maya yang mencakup sejumlah desa rawan kebakaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mendeteksi 106 titik panas di Kalbar dalam 24 jam terakhir. Suhu udara yang mencapai 34 derajat Celsius serta angin kencang meningkatkan risiko kebakaran selama musim kemarau.
Prakirawan BMKG Supadio Pontianak Septika mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
“Waspadai kenaikan suhu udara dan berkurangnya potensi hujan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Waspadai pula potensi hujan yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang berdurasi singkat di beberapa wilayah,” tegas Tika.
Sebagai langkah mitigasi, PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Kantor Cabang (KC) Bandara Internasional Supadio menyalurkan bantuan mesin pemadam kebakaran, sepatu pelindung, seragam relawan, serta mesin sedot lumpur kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) di empat desa sekitar bandara, yakni Desa Limbung, Desa Arang Limbung, Desa Kuala Dua, dan Desa Teluk Kapuas.
General Manager (GM) PT Angkasa Pura Indonesia KC Bandara Internasional Supadio Maya Damayanti mengatakan bantuan tersebut diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Selain mesin pemadam, setiap desa juga menerima 10 pasang sepatu boots pelindung dan 10 set seragam tim. Khusus untuk Desa Limbung, kami berikan pula dukungan tambahan berupa mesin sedot lumpur guna memperlancar akses air dalam upaya pemadaman di lapangan,” kata Maya.
“Kami berharap bantuan ini memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya MPA, agar mereka lebih siap dan terlindungi saat bertugas di lapangan.” []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara