Jalan Rusak Bertahun-tahun, Desa Tawangsari Minta Perhatian Pemprov Jabar

CIREBON – Minimnya pembangunan infrastruktur di Desa Tawangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar), memicu usulan agar sebagian wilayah desa tersebut bergabung dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng). Wacana itu muncul sebagai bentuk kritik terhadap lambannya realisasi perbaikan akses jalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Usulan tersebut disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jabar Dadi Rohanadi dalam Rapat Paripurna DPRD Jabar pada pertengahan Juli 2026. Menurutnya, berbagai usulan pembangunan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar belum juga mendapat tindak lanjut.

“Saya sudah usulkan perbaikan berkali-kali, akhirnya saya sempat berpikir ekstrem, mungkin enggak jika kita ikhlaskan sebagian saudara kita serahkan pada Jawa Tengah, Brebes. Kalau memang kita tidak bisa urus,” kata Dadi, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (20/07/2026).

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Dadi menegaskan usulan itu bukan karena masyarakat ingin keluar dari Jabar, melainkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi infrastruktur yang belum memadai.

Menurutnya, akses jalan yang layak merupakan kebutuhan dasar masyarakat untuk menjangkau pusat pemerintahan, layanan kesehatan, fasilitas pendidikan, hingga aktivitas perekonomian. Namun, hingga kini berbagai usulan pembangunan disebut belum terealisasi.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh warga Desa Tawangsari. Darjo mengaku lebih memilih berbelanja ke Pasar Limbangan di Kabupaten Brebes karena akses menuju wilayah Kabupaten Cirebon sulit dilalui kendaraan.

“Mobil enggak bisa. Jangankan mobil, Tossa juga enggak bisa. Di depan sudah ada plangnya, satu-satunya ya motor, kalau mobil kita harus putar jauh,” katanya.

Sebagai petani bawang, Darjo juga mengaku lebih mudah memasarkan hasil panennya ke Brebes dibandingkan ke wilayah Cirebon akibat keterbatasan akses jalan.

Keluhan serupa disampaikan Fauzah. Ia mengatakan akses menuju fasilitas kesehatan di wilayah Cirebon masih menyulitkan, terutama saat musim hujan. Meski terdapat Puskesmas Pembantu di dekat kantor desa, warga hanya dapat mencapainya menggunakan sepeda motor dengan menyeberangi Sungai Cisanggarung.

“Melahirkan di Mutiara Bunda. Lebih dekat daripada ke Waled. Banyak warga sini juga melahirkan di sana,” ujarnya.

Meski aktivitas ekonomi dan layanan kesehatan lebih banyak bergantung pada Brebes, warga menegaskan tidak ingin berpindah menjadi bagian dari Jateng. Mereka berharap pemerintah segera memperbaiki jalan desa dan membangun jembatan yang dapat dilalui kendaraan roda empat agar akses menuju pusat pemerintahan, layanan publik, dan kegiatan ekonomi menjadi lebih mudah.

“Harapannya ya pengin lebih baik. Buat masa depan anak-anak jalannya lebih enak. Dibangun jembatan, jalannya juga diperbaiki, termasuk jalan-jalan di perkampungan yang sekarang sudah enggak layak,” kata Fauzah. []

Redaksi02 | Nadiya

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

PAMA Targetkan Penurunan Stunting 10 Persen Lewat Pemberdayaan Posyandu

PDF 📄JAKARTA – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) memperkuat upaya percepatan penurunan stunting di wilayah binaannya …

Krisis Air Bersih Bertambah, Karawang Catat 2.585 KK Terdampak

PDF 📄KARAWANG – Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin meluas di Kabupaten Karawang (Karawang), …

Puskesmas Nguter Perkuat Deteksi Dini TB dan Pertahankan Capaian Stunting

PDF 📄SUKOHARJO – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Nguter akan melakukan pelacakan (tracing) kasus tuberkulosis (tuberculosis/TB) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *