Grobogan Kembangkan Tradisi Asrah Batin Menjadi Wisata Berbasis Budaya

GROBOGAN – Tradisi Asrah Batin yang digelar di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan (Grobogan), Jawa Tengah (Jateng), dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Tingginya antusiasme warga terhadap tradisi dua tahunan tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya lokal.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan, Wahono, mengatakan tradisi Asrah Batin tidak hanya memiliki nilai budaya yang kuat, tetapi juga dapat dikembangkan bersama potensi wisata alam di kawasan Sungai Tuntang.

“Tradisi ini dapat menjadi potensi sebagai destinasi budaya. Selain itu, sungai tempat menyeberang, Sungai Tuntang juga potensial dijadikan arung jeram,” ujarnya, sebagaimana dilansir Murianews, Senin (13/07/2026).

Menurut Wahono, penyelenggaraan tradisi tersebut mampu menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar sehingga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

“Tradisi ini menyedot animo masyarakat yang banyak sehingga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, tradisi Asrah Batin berawal dari legenda masyarakat setempat mengenai Ki Sutejo atau Kedono dari Desa Karanglangu dan Nyi Warsiyah dari Desa Ngombak yang diketahui merupakan saudara kandung yang terpisah sejak kecil hingga akhirnya hubungan keduanya dibatalkan setelah identitas mereka terungkap.

“Setelah diketahui mereka masih sedarah akhirnya hubungan tersebut digagalkan (tidak jadi menikah),” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Ngombak, Herianto, menjelaskan Asrah Batin umumnya diselenggarakan setiap Minggu Kliwon pada September atau Oktober. Namun, pelaksanaan tahun ini dimajukan ke Juli karena masa jabatan kepala desa akan segera berakhir.

“Berhubung masa pengabdian lurah atau kades akan habis dan ada pencalonan kembali, maka adat dua tahunan dimajukan,” ujar dia.

Prosesi Asrah Batin diawali dengan penjemputan Kades Karanglangu beserta perangkat desa menggunakan rakit hias oleh rombongan Desa Ngombak. Setelah itu, warga Karanglangu menyeberangi Sungai Tuntang menggunakan perahu karet sebagai bagian dari rangkaian tradisi.

Sebelum puncak pelaksanaan pada 12 Juli 2026, masyarakat lebih dahulu menggelar sejumlah rangkaian adat, yakni Gebyok pada 1 Juli, Tubo pada 6 Juli, dan Sasrahan Badek pada 11 Juli 2026. Tradisi yang bermakna “pasrah batin” atau keikhlasan menerima kenyataan tersebut diharapkan terus dilestarikan sebagai identitas budaya sekaligus daya tarik wisata berbasis desa. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Ribuan Seniman Meriahkan Festival Lima Gunung yang Dibangun Gotong Royong Warga

PDF 📄MAGELANG – Festival Lima Gunung (FLG) XXV/2026 kembali menegaskan kekuatan gotong royong masyarakat desa …

Desa di Maroko Gunakan Cermin sebagai Penerangan Alami Tanpa Listrik

PDF 📄DENPASAR – Sebuah desa di Maroko memanfaatkan cermin sederhana untuk memantulkan cahaya bulan sebagai …

Pengelolaan Lingkungan Diminta Hasilkan Nilai Ekonomi Berkelanjutan

PDF 📄JAKARTA – Transformasi pengelolaan lingkungan menjadi sektor yang mampu menghasilkan nilai ekonomi terus didorong …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *