SUKOHARJO – Tim mahasiswa Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan mesin pengolah sampah organik untuk mendukung budidaya maggot di Desa Ngentak, Bulakrejo, Kabupaten Sukoharjo. Inovasi tersebut ditujukan untuk mempercepat pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi pakan maggot sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah dan membuka peluang ekonomi masyarakat desa.
Program tersebut dilaksanakan melalui Program Hibah Pembelajaran Berdampak (Jarpak) bidang Pengabdian Masyarakat UNS 2026. Pengembangan teknologi diawali dengan identifikasi kebutuhan masyarakat, dilanjutkan perancangan, fabrikasi, hingga pengujian mesin agar sesuai dengan kondisi di lapangan, sebagaimana diberitakan Teknik Elektro UNS, Selasa (30/06/2026).
Mesin yang dikembangkan berupa alat pencacah sampah organik dengan komponen berbahan logam yang mampu menghaluskan berbagai jenis limbah organik menjadi ukuran lebih kecil sehingga lebih mudah dikonsumsi maggot. Sistem penggeraknya menggunakan motor listrik satu fasa berdaya tiga perempat horsepower (HP), menyesuaikan infrastruktur kelistrikan yang tersedia di desa.
Dengan proses pencacahan tersebut, limbah organik dapat lebih cepat diuraikan oleh maggot dibandingkan metode sebelumnya yang mengandalkan proses perendaman selama beberapa jam. Kondisi itu diharapkan mampu mempercepat siklus budidaya, meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah, sekaligus menghasilkan sumber pakan alternatif bagi sektor perikanan dan peternakan unggas.
Program yang berlangsung sejak Maret hingga Juli 2026 itu melibatkan 10 mahasiswa Teknik Elektro UNS Angkatan 2023 di bawah bimbingan Sutrisno. Setelah alat selesai dikembangkan dan diuji, tim memberikan sosialisasi, pelatihan pengoperasian, perawatan rutin, aspek keselamatan penggunaan, serta pendampingan kepada masyarakat Desa Ngentak agar mesin dapat dioperasikan secara mandiri.
Perwakilan masyarakat Desa Ngentak, Riski Bagus, menyambut baik penerapan teknologi tersebut. “Kami berharap alat ini dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat, membantu mengurangi penumpukan sampah organik, serta mendukung budidaya maggot yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ikan dan unggas,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pembimbing, Sutrisno, menilai inovasi tersebut menjadi wujud penerapan teknologi tepat guna yang dikembangkan mahasiswa untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa. “Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Melalui pengolahan limbah organik dan pemanfaatannya dalam budidaya maggot, diharapkan tercipta sistem yang lebih efisien, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi,” jelasnya.
Ke depan, mesin pengolah sampah organik tersebut diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain yang memiliki potensi serupa. Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab, memperkuat ekonomi sirkular, serta meningkatkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menciptakan solusi pembangunan desa yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara